fin.co.id - Amerika Serikat kembali mengeluarkan peringatan serius bagi warganya yang berada di Venezuela. Pemerintah AS meminta seluruh warga negaranya untuk segera meninggalkan negara tersebut menyusul laporan meningkatnya ancaman keamanan di berbagai wilayah.
Situasi ini mencuat di tengah kabar bahwa kelompok paramiliter bersenjata diduga aktif melacak keberadaan warga Amerika di Venezuela, hanya sepekan setelah penangkapan Presiden Nicolás Maduro.
Peringatan keamanan itu disampaikan Departemen Luar Negeri AS pada Sabtu 10 Januari lalu. Dalam pernyataannya, disebutkan adanya laporan tentang kelompok milisi pro-pemerintah yang dikenal sebagai colectivos.
Kelompok bersenjata tersebut dilaporkan mendirikan penghalang jalan, menghentikan kendaraan, dan melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah penumpangnya merupakan warga negara Amerika Serikat atau pihak yang dianggap memiliki keterkaitan dengan AS.
“Warga AS di Venezuela harus tetap waspada dan berhati-hati saat bepergian melalui jalan darat,” demikian bunyi peringatan tersebut.
Departemen Luar Negeri juga mendesak warganya agar segera meninggalkan Venezuela, terlebih setelah sejumlah penerbangan internasional dari negara itu kembali dibuka.
Imbauan ini muncul di tengah pernyataan optimistis Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam wawancara dengan New York Times pekan lalu, Trump mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Venezuela pada suatu waktu di masa depan.
Ia bahkan mengklaim bahwa Amerika Serikat telah “mengendalikan” negara Amerika Selatan itu setelah menggulingkan para pemimpinnya melalui serangan malam di Caracas.
“Saya pikir suatu saat nanti negara itu akan aman,” kata presiden AS tersebut kepada wartawan.
Namun, peringatan terbaru Departemen Luar Negeri AS justru menunjukkan sebaliknya. Pemerintah AS menilai kondisi keamanan di Venezuela masih jauh dari stabil, terutama setelah operasi pasukan khusus pada akhir pekan lalu yang dilaporkan menewaskan puluhan orang.
Situasi inilah yang menjadi dasar keluarnya peringatan agar warga Amerika segera meninggalkan negara tersebut.
Pemerintah Venezuela pun merespons peringatan itu dengan nada keras. Kementerian Luar Negeri Venezuela menilai langkah Washington tersebut tidak berdasar.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah menyebut peringatan Departemen Luar Negeri AS didasarkan pada laporan palsu yang bertujuan untuk menciptakan persepsi risiko yang sebenarnya tidak ada.
“Venezuela berada dalam keadaan tenang, damai, dan stabil sepenuhnya,” kata kementerian itu.
“Semua pusat populasi, jalur komunikasi, pos pemeriksaan, dan perangkat keamanan berfungsi normal, dan semua senjata Republik berada di bawah kendali Pemerintah Bolivarian, satu-satunya penjamin monopoli kekuatan yang sah dan ketenangan rakyat Venezuela.”
Meski demikian, gambaran di lapangan tidak sepenuhnya sejalan dengan klaim pemerintah. Sejumlah jurnalis dan aktivis di Caracas melaporkan keberadaan anggota kelompok bersenjata colectivos yang terlihat berpatroli menggunakan sepeda motor serta mendirikan pos pemeriksaan di berbagai sudut ibu kota.
Akses jalan utama yang menghubungkan Caracas dengan wilayah perbatasan barat juga dilaporkan dijaga ketat oleh puluhan pos pemeriksaan militer dan kepolisian.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah pejabat Departemen Luar Negeri AS terlihat mengunjungi Caracas pada Jumat lalu.
Kunjungan ini diyakini sebagai bagian dari persiapan pembukaan kembali Kedutaan Besar Amerika Serikat di Venezuela. Sementara itu, Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez sebelumnya menyerukan peningkatan hubungan dengan Washington, meski di saat bersamaan salah satu sekutunya dilaporkan diculik.
Dari Amerika Serikat, kabar mengenai kondisi Nicolás Maduro juga mencuat. Putra mantan pemimpin Venezuela itu, Nicolas Maduro Guerra, menyebut ayahnya dalam keadaan baik saat ditahan di penjara AS bersama istrinya, Cilia Flores, sembari menunggu proses persidangan.
“Kita baik-baik saja. Kita adalah pejuang,” ujar Maduro Guerra, mengutip pernyataan ayahnya dalam sebuah video yang dirilis oleh Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV) yang berkuasa.
Source: theguardian
Milisi Bersenjata Razia Warga AS, Washington Minta Warganya Tinggalkan Venezuela
news.fin.co.id - 12/01/2026, 10:00 WIB
Tim Redaksi
Donal Trump (kiri) beri peringatan keras ke penjabat sementara Presiden Venezuela Delcy Rodriguez (kanan).