fin.co.id - Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso atau yang akrab disapa Bang Yos mengungkapkan kisah di balik dimulainya proyek pembangunan monorel Jakarta yang akhirnya terbengkalai selama 22 tahun.
Ia menuturkan, gagasan pembangunan monorel berawal pada 2003, ketika dirinya mencari solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan ibu kota yang kian parah. Saat itu, Bang Yos berdiskusi dengan sejumlah pakar transportasi dan mendapat masukan agar Jakarta memiliki sistem transportasi massal berskala besar agar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.
Dari diskusi tersebut, ia merancang konsep transportasi terintegrasi yang mencakup empat moda utama, yakni MRT, monorel, Busway atau Transjakarta, serta waterway.
“Ini dirancang secara terintegrasi, jalurnya ada masing-masing tetapi terintegrasi sehingga rakyat Jakarta dan sekitarnya dari titik mana mau ke mana pasti dapat transportasi makro,” kata Sutiyoso saat menghadiri pembongkaran tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Januari 2026.
Namun dalam perjalanannya, Bang Yos mengakui pembangunan monorel menghadapi tantangan besar, terutama kesulitan mendapatkan investor. Kondisi ekonomi Indonesia yang masih terdampak krisis pasca-kerusuhan 1998 membuat banyak pihak enggan menanamkan modal.
Karena keterbatasan tersebut, ia memilih memprioritaskan pembangunan Transjakarta yang tidak membutuhkan investasi swasta. Sementara itu, proyek monorel baru kembali dicanangkan pada 2004 setelah Presiden Megawati Soekarnoputri menyatakan dukungan, seiring masuknya investor dari China.
“2004 dicanangkan oleh Presiden Megawati. Artinya saat dicanangkan Presiden itu berarti segala sesuatunya itu sudah ada gitu, rencananya jelas, investornya juga ada dari China,” jelasnya.
Sayangnya, setelah masa jabatan Sutiyoso berakhir pada 2007, proyek monorel tidak dilanjutkan oleh gubernur selanjutnya. Hingga kini, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan proyek tersebut dihentikan dan dibiarkan mangkrak.
“Tentu Gubernur waktu itu punya alasan yang saya tidak tahu,” ucapnya.
Sejak saat itu, keberadaan tiang monorel yang terbengkalai di sejumlah ruas jalan Jakarta menjadi beban pikiran tersendiri bagi Bang Yos. Ia mengaku kerap merasa sedih setiap kali melihat proyek yang dulu ia rintis tak pernah rampung.
Rasa lega baru dirasakannya di masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, ketika pembongkaran 109 tiang monorel di Jalan HR. Rasuna Said resmi dimulai, Rabu, 14 Januari 2026.
“Jujur saja hari ini hati saya itu lega sekali gitu ya dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini gitu,” kata Sutiyoso.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Pramono Anung karena telah mengambil langkah untuk menyelesaikan persoalan lama tersebut dan menata kembali wajah Jakarta.
“Mudah-mudahan kalau saya lewat ini nggak sakit mata lagi saya. Karena itu yang selama ini terus terpikir gini, aduh ya sedih aja ya gitu kan, aku mulai itu jadinya kayak begini ya,” pungkasnya.
Cahyono/Disway