BMKG Waspadai Gelombang Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah hingga Akhir Januari

news.fin.co.id - 21/01/2026, 18:09 WIB

BMKG Waspadai Gelombang Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah hingga Akhir Januari

BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat dan gelombang tinggi. Foto: Unsplash/ Aditya Nara.

fin.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi hujan ekstrem yang berpeluang terjadi di berbagai wilayah Indonesia menjelang akhir Januari 2026. Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi gangguan atmosfer yang saat ini tengah aktif di kawasan Indonesia.

Sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer terkini mendorong pertumbuhan awan konvektif secara signifikan di banyak wilayah.

“Kondisi atmosfer saat ini berpotensi memicu hujan dengan intensitas tinggi yang dapat berdampak pada banjir, tanah longsor, serta gangguan aktivitas transportasi,” ujar Faisal dalam keterangannya, Rabu, 21 Januari 2026.

Advertisement

Ia mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah rawan bencana hidrometeorologi.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama pemicu cuaca ekstrem adalah keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia.

Menurut Andri, sistem tersebut memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot atau 28 kilometer per jam dengan tekanan udara 1001 hPa.

“Pergerakan bibit siklon ke arah barat berpotensi memperkuat pertemuan dan belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara. Kondisi ini meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” jelasnya.

Selain itu, penguatan Monsun Asia hingga 23 Januari 2026 yang disertai seruakan dingin dari daratan Asia turut memperparah kondisi cuaca. Fenomena tersebut meningkatkan kecepatan angin di Laut Cina Selatan dan mendorong pembentukan awan hujan secara masif di selatan khatulistiwa.

Aktivitas atmosfer juga diperkuat oleh Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Equator, dan Kelvin, yang ditandai dengan nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif. Kondisi ini memperbesar peluang terbentuknya awan Cumulonimbus yang berpotensi memicu hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

BMKG mencatat, potensi cuaca ekstrem masih berlanjut pada 22 hingga 23 Januari di wilayah Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Selanjutnya, intensitas hujan diperkirakan meningkat di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 24 Januari, serta di Bali, NTB, dan NTT pada periode 25–26 Januari.

“Kondisi cuaca bersifat sangat dinamis dan dapat berubah dengan cepat, sehingga masyarakat perlu terus mengikuti perkembangan terbaru,” kata Andri.

BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas luar ruang serta perjalanan darat, laut, dan udara. Informasi cuaca terkini dapat diakses melalui aplikasi InfoBMKG, laman resmi bmkg.go.id, serta media sosial @infobmkg.

Advertisement

Cahyono/Disway 

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID