SBIN Tancap Gas! Kemenperin Siapkan Jurus Baru, Pati Ubi Kayu Jadi Senjata Industrialisasi Nasional

news.fin.co.id - 22/01/2026, 17:27 WIB

SBIN Tancap Gas! Kemenperin Siapkan Jurus Baru, Pati Ubi Kayu Jadi Senjata Industrialisasi Nasional

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: Bianca Khairunnisa

fin.co.id  - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat langkahnya dalam membangun sektor industri nasional yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Salah satu upaya yang disiapkan adalah percepatan industrialisasi berbasis sumber daya alam melalui penerapan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, lewat SBIN, Kemenperin akan fokus membangun ekosistem industri dari berbagai komoditas yang memiliki nilai strategis. Strategi tersebut dirancang melalui tujuh pokok kebijakan utama yang menjadi fondasi pelaksanaannya.

Ketujuh poin kebijakan SBIN tersebut meliputi perlindungan pasar domestik, perluasan pasar ekspor dengan orientasi global, dorongan investasi bernilai tambah serta substitusi impor, penguasaan teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, reformasi regulasi lintas sektor, pengembangan industri halal sebagai motor pertumbuhan baru, serta penguatan keterkaitan hulu dan hilir industri (backward–forward linkage).

“Ketujuh key points ini sangat relevan dengan apa yang kita lakukan hari ini. Melalui pendekatan SBIN, Indonesia menegaskan komitmennya untuk membangun industri yang berdaulat, kompetitif, dan tentu juga berkelanjutan,” ujar Agus saat memberikan sambutan dalam acara Business Matching Pati Ubi Kayu di Gedung Kementerian Perindustrian, Jalan Widya Chandra, Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026.

Advertisement

Sebagai bentuk konkret pelaksanaan SBIN, Agus menuturkan bahwa Kemenperin akan mempercepat industrialisasi berbasis sumber daya alam dengan menitikberatkan pada penguatan keterkaitan hulu–hilir. Salah satu komoditas yang dipilih adalah pati ubi kayu, yang dinilai memiliki peran strategis.

“Kami akan mengakselerasi upaya industrialisasi berbasis sumber daya,” tegasnya.

Pati ubi kayu dinilai memiliki nilai tambah tinggi karena dapat digunakan sebagai bahan baku beragam produk, baik pangan maupun nonpangan. Di sektor pangan, komoditas ini dimanfaatkan untuk pemanis, bumbu, makanan ringan, hingga mi. Sementara di sektor nonpangan, pati ubi kayu digunakan dalam industri kertas, bahan kimia, hingga etanol.

Di pasar domestik, pati ubi kayu saat ini telah menguasai sekitar 79 persen pangsa pasar. Industri ini berada di bawah pembinaan Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin, dengan jumlah perusahaan diperkirakan mencapai 125 unit di seluruh Indonesia. Namun, tingkat utilisasi industri tersebut masih berada di kisaran 43 persen, berdasarkan data dari SIINas dan OSS.

Dari sisi perdagangan internasional, hingga November 2025, nilai ekspor pati ubi kayu tercatat sebesar USD 18,7 juta atau melonjak 58,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Indonesia masih melakukan impor pati ubi kayu senilai USD 73,8 juta, meskipun angka tersebut telah turun 54,59 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Bianca Khairunnisa/Disway

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID