Nasional . 25/01/2026, 07:48 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Mayoritas kota besar di Indonesia berpotensi mengalami hujan ringan hingga kondisi berawan pada hari ini, Minggu. Informasi tersebut merujuk pada prakiraan cuaca terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyoroti dinamika atmosfer sebagai faktor utama perubahan cuaca nasional.
Dalam siaran resmi BMKG, Prakirawan Cuaca Wahyu Anisa menegaskan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama karena Indonesia saat ini masih berada dalam fase puncak musim penghujan yang diperkirakan berlangsung hingga Februari. Kombinasi sistem atmosfer global dan regional berpotensi memicu hujan dengan intensitas bervariasi di berbagai wilayah.
BMKG memprakirakan hujan berintensitas ringan akan mengguyur sejumlah kota besar di berbagai pulau. Wilayah tersebut mencakup Pekanbaru, Bengkulu, Pangkal Pinang, Palembang, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Tanjung Selor, Mataram, Kupang, Makassar, Mamuju, Manokwari, Jayapura, hingga Jayawijaya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi hujan tidak hanya terpusat di satu wilayah, melainkan menyebar dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Papua. Bagi masyarakat perkotaan, cuaca ini dapat berdampak langsung pada aktivitas harian, terutama mobilitas dan jadwal perjalanan.
Selain hujan ringan, BMKG juga memprediksi kondisi berawan tebal hingga berkabut di sejumlah kota besar lainnya. Kota-kota tersebut antara lain Banda Aceh, Medan, Pontianak, Tanjung Pinang, Jambi, Padang, Semarang, Banjarmasin, Samarinda, Denpasar, Palu, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, dan Sorong.
Cuaca berawan tebal hingga berkabut kerap menurunkan jarak pandang dan berpotensi mengganggu aktivitas transportasi, khususnya penerbangan dan pelayaran. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tetap memantau pembaruan cuaca secara berkala.
BMKG mencatat kondisi cuaca yang sedikit berbeda untuk beberapa wilayah tertentu. Jakarta dan Nabire diperkirakan akan mengalami hujan dengan intensitas sedang, sementara Merauke berpotensi diguyur hujan yang disertai kilat dan petir.
Perbedaan intensitas hujan ini menunjukkan bahwa dinamika atmosfer yang memengaruhi cuaca Indonesia bersifat kompleks dan tidak seragam antarwilayah.
BMKG mengungkapkan bahwa kombinasi dinamika atmosfer menjadi penyebab utama kondisi cuaca tersebut. Hasil pantauan meteorologi menunjukkan keberadaan dua sistem siklon tropis yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap potensi hujan di Indonesia.
Siklon Tropis Luana terpantau berada di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot. Sistem ini bergerak ke arah Samudra Hindia selatan Pulau Jawa, sehingga turut memengaruhi suplai uap air dan pola angin di wilayah Indonesia bagian selatan.
Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 92B terdeteksi berada di sekitar Teluk Carpentaria, sebelah selatan Papua Selatan. Dalam 48 jam ke depan, bibit siklon ini diprediksi bergerak memasuki wilayah Australia, namun tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di Indonesia timur.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media