Nasional . 26/01/2026, 15:17 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Cisarua tanpa henti selama hampir dua malam berturut-turut menjadi pemicu tragedi ini.
KSAL Muhammad Ali menjelaskan kronologi kejadian ini.
"Saat itu kondisi hujan lebat selama hampir dua malam hujan terus," papar Ali saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senin, 26 Januari 2026.
"Mungkin itu mengakibatkan longsor dan menimpa satu desa."
"Kebetulan ada prajurit kita yang sedang berlatih di sana," tambahnya.
Kejadian ini sungguh ironis, para ksatria yang siap menjaga perbatasan justru menjadi korban bencana alam di tanah air sendiri.
Upaya penyelamatan di Kampung Pasir Kuning, lokasi longsor, menghadapi rintangan yang sangat serius.
Jika Anda membayangkan alat berat segera diterjunkan untuk membersihkan puing-puing, kenyataannya sangat berbeda.
Akses jalan yang sempit dan kecil menjadi barikade utama, menghalangi pergerakan alat-alat canggih menuju titik nol bencana.
Tak hanya soal infrastruktur, faktor alam pun seolah tidak berpihak pada tim SAR gabungan yang bekerja tanpa lelah.
"Alat berat memang belum bisa masuk karena kondisi cuaca dan jalan yang kecil," tegas Ali.
Keterbatasan ini memaksa tim gabungan untuk berpikir keras dan mencari solusi inovatif agar proses pencarian tetap berjalan efektif, meskipun tanpa dukungan mesin besar di tahap awal.
Mereka harus mengandalkan tenaga manusia dan strategi yang matang.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media