fin.co.id - Intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Banten menyebabkan sedikitnya 1.387 hektare lahan pertanian padi di Kabupaten Tangerang terendam banjir. Dari jumlah tersebut, ratusan hektare di antaranya dilaporkan mengalami gagal panen atau puso.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, mengonfirmasi bahwa dampak banjir ini tersebar secara masif di 14 kecamatan.
"Total lahan sawah yang terendam atau terdampak banjir mencapai 1.387 hektare, sementara yang terindikasi puso sekitar 194,5 hektare," ujar Ujang dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).
Sebaran Wilayah Terdampak
Berdasarkan data DPKP, wilayah yang terdampak mencakup kecamatan di sektor barat, tengah, hingga pesisir utara Tangerang. Beberapa titik terparah berada di:
• Kecamatan Tigaraksa: Meliputi Desa Pematang, Cisereh, Tegalsari, Matagara, Margasari, dan Pasir Bolang.
• Kecamatan Pakuhaji: Meliputi Desa Kalibiru, Rawa Boni, Boni Sari, Laksana, Gaga, dan Sukawali.
• Kecamatan Jayanti: Meliputi Desa Pasir Muncang, Jayanti, Cikande, Pasir Gintung, dan Pangkat.
Selain itu, banjir juga merendam lahan produktif di wilayah Cisoka, Panongan, Balaraja, Sindang Jaya, Rajeg, Jambe, Sukadiri, Kronjo, Kresek, Kemiri, hingga Mauk.
Mitigasi dan Bantuan Benih
Menanggapi ancaman krisis produksi bagi petani, Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menyiapkan langkah darurat. Ujang memastikan bahwa kelompok tani yang lahannya dipastikan puso akan menerima bantuan benih padi pengganti.
"Untuk lahan yang mengalami puso, kami sudah menyiapkan benih pengganti bagi kelompok tani terdampak," jelasnya.
Saat ini, pihak DPKP bersama penyuluh dari Kementerian Pertanian masih terus melakukan identifikasi di lapangan. Proses pendataan dilakukan secara bertahap dengan memantau perkembangan cuaca serta mengacu pada prakiraan iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Selain pendataan, DPKP juga mengerahkan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk memantau kondisi kesehatan tanaman pascabanjir guna mencegah serangan hama yang biasa muncul akibat kelembapan tinggi.
Koordinasi intensif juga terus dilakukan bersama Dinas Pertanian Provinsi Banten guna memastikan penanganan dampak bencana ini tertangani secara menyeluruh hingga pertengahan Februari mendatang.