Nasional . 28/01/2026, 11:12 WIB
Penulis : Gatot Wahyu | Editor : Gatot Wahyu
BMKG menaruh perhatian khusus pada dua segmen megathrust yang lama tidak mengalami pelepasan energi besar, yaitu:
Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai–Siberut.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebut kondisi ini sebagai seismic gap—ibarat pegas yang terus ditekan dan berpotensi dilepaskan sewaktu-waktu.
Jika terjadi, gempa besar dan tsunami bisa berdampak luas, khususnya di wilayah pesisir padat penduduk.
Menghadapi ancaman gempa megathrust, mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi langkah paling krusial. Masyarakat di wilayah rawan diimbau untuk:
Memahami jalur evakuasi tsunami, Mengikuti informasi resmi BMKG dan BPBD, Tidak mudah terpancing isu atau hoaks, Meningkatkan kesiapan keluarga dan komunitas.
BMKG menegaskan bahwa waktu terjadinya gempa megathrust tidak bisa diprediksi, namun dampaknya bisa diminimalkan dengan perencanaan yang matang dan kesadaran kolektif.
Ancaman gempa megathrust di Indonesia bukan isu menakut-nakuti, melainkan realitas ilmiah yang harus dihadapi dengan kesiapan dan pengetahuan.
Dengan adanya 14 zona megathrust berstatus merah, kewaspadaan nasional menjadi keharusan.
Peta Bahaya Gempa Indonesia 2024 menjadi alat penting untuk memahami risiko dan menyusun strategi mitigasi yang lebih efektif demi melindungi nyawa dan masa depan masyarakat Indonesia.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media