fin.co.id – Peristiwa bencana lingkungan yang terjadi di kawasan Batang Toru pada penghujung November 2025 menjadi sinyal serius tentang rentannya ekosistem Sumatera di tengah tekanan perubahan iklim dan aktivitas manusia. Siklon tropis Senyar yang membawa hujan ekstrem dengan intensitas mencapai 661,3 milimeter hanya dalam kurun dua hari, 27–28 November 2025, memicu banjir bandang serta longsor di wilayah yang menjadi habitat utama Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).
Spesies Orangutan Tapanuli sendiri baru diakui secara ilmiah pada 3 November 2017 dan dipublikasikan dalam jurnal Current Biology. Satwa endemik ini hanya hidup di Ekosistem Batang Toru. Dengan jumlah populasi yang diperkirakan sekitar 800 individu dan status terancam kritis (critically endangered) dalam Daftar Merah IUCN, keberadaan orangutan ini semakin terdesak akibat rusaknya habitat dan dampak bencana ekologis.
Secara geografis, Ekosistem Batang Toru merupakan kawasan hidrologis strategis di Sumatra Utara yang mencakup sembilan sub-daerah aliran sungai (Sub-DAS), dengan Sub-DAS Batang Toru sebagai yang terbesar. Namun, lanskap ini telah lama terbelah oleh aliran Sungai Batang Toru serta pembangunan infrastruktur, sehingga habitat Orangutan Tapanuli terpisah menjadi Blok Barat dan Blok Timur. Kondisi fragmentasi tersebut membuat ekosistem semakin rentan saat menghadapi cuaca ekstrem.
Hasil kajian ilmiah berbasis analisis citra satelit yang dirilis Erik Meijaard bersama tim pada 15 Desember 2025 menunjukkan bahwa dampak paling signifikan dari bencana terjadi di wilayah Blok Barat. Tercatat sekitar 3.964 hingga 6.451 hektare hutan mengalami kerusakan.
Kerusakan ini diperkirakan menghilangkan sumber pakan alami orangutan hingga lima tahun mendatang. Penelitian tersebut juga memperkirakan sekitar 33 individu terdampak secara langsung, dengan potensi kematian atau cedera berat mencapai 6,2 hingga 10,5 persen dari total populasi Blok Barat. Dalam konteks konservasi satwa dengan keragaman genetik terbatas, kehilangan lebih dari satu persen populasi per tahun sudah dianggap sebagai jalur cepat menuju kepunahan.
Temuan lain dari analisis citra satelit Sentinel tahun 2025 mengungkap bahwa perubahan tutupan lahan di kawasan Batang Toru turut memperbesar dampak bencana. Berkurangnya hutan bukan hanya meningkatkan potensi longsor dan banjir, tetapi juga menggeser bencana alam menjadi krisis ekologis yang mengancam keberlanjutan hidup manusia dan satwa liar di Sumatera.
Harapan di Hari Primata Indonesia
Peringatan Hari Primata Indonesia yang jatuh pada 30 Januari menjadi momentum penting untuk mendorong aksi nyata. Upaya penyelamatan Orangutan Tapanuli dinilai tidak bisa lagi ditunda dan memerlukan kerja sama lintas sektor.
“Bencana ekologis di Batang Toru adalah alarm keras bagi kita semua, tetapi juga momentum untuk berbenah. Orangutan Tapanuli masih bisa diselamatkan jika pemulihan ekosistem dilakukan secara serius dan kolaboratif. TFCA Sumatera melihat krisis ini sebagai titik balik untuk memperkuat perlindungan hutan, memperbaiki tata kelola lanskap, dan memastikan pembangunan tidak lagi mengorbankan masa depan keanekaragaman hayati,” kata Direktur Program TFCA Sumatera, Samedi dalam keterangan, Jumat, 30 Januari 2026.
Pemerintah pun didorong untuk mengambil langkah tegas, mulai dari menerapkan moratorium kegiatan yang berpotensi merusak Ekosistem Batang Toru, memperluas koridor hijau sebagai penghubung habitat, hingga menetapkan kawasan ini sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). Kebijakan pencabutan sejumlah izin usaha di wilayah Batang Toru, termasuk milik PT Agrincourt dan NSHE, dinilai sebagai langkah awal yang patut diapresiasi dan perlu diperkuat.
Di sisi lain, kalangan akademisi dan praktisi konservasi diharapkan terus melakukan evaluasi pascabencana agar proses pemulihan habitat berjalan berbasis data dan sains. Dukungan masyarakat juga memegang peran penting, baik melalui kampanye edukasi, advokasi di media sosial, maupun dorongan kebijakan agar penyelamatan Batang Toru menjadi agenda prioritas nasional.
“Kita tidak sedang bicara soal satu spesies semata. Menyelamatkan Orangutan Tapanuli berarti menjaga fungsi ekologis Batang Toru sebagai penyangga kehidupan, pengendali bencana, dan sumber penghidupan masyarakat Sumatra. Dengan komitmen pemerintah, dukungan ilmuwan, dan suara publik yang kuat, harapan itu masih nyata,” tutup Samedi.