BRIN Peringatkan we Bahaya Serius: Kuliner Satwa Liar dan Pasar Kotor Jadi Jalur Masuk Virus Nipah

news.fin.co.id - 01/02/2026, 18:05 WIB

BRIN Peringatkan we Bahaya Serius: Kuliner Satwa Liar dan Pasar Kotor Jadi Jalur Masuk Virus Nipah

Tren konsumsi kuliner ekstrem berbahan satwa liar serta buruknya kebersihan pasar hewan kini dinilai sebagai ancaman nyata bagi kesehatan publik.

fin.co.id – Tren konsumsi kuliner ekstrem berbahan satwa liar serta buruknya kebersihan pasar hewan kini dinilai sebagai ancaman nyata bagi kesehatan publik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan, dua faktor tersebut berpotensi besar membuka jalan bagi masuknya Virus Nipah ke manusia.

Peringatan ini didasarkan pada temuan ilmiah yang menunjukkan bahwa virus mematikan tersebut telah terdeteksi pada populasi kelelawar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga Pulau Jawa.

Situasi tersebut menempatkan Indonesia pada tingkat risiko tinggi terjadinya penularan lintas spesies atau spillover.

Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti menyebut, kedekatan interaksi manusia dengan satwa liar sebagai faktor utama pemicu penyebaran virus zoonosis.

Advertisement

Aktivitas perburuan, perdagangan, hingga konsumsi satwa liar dinilai menciptakan jalur penularan yang sangat terbuka.

"Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit seperti Nipah," tegas Indi dalam keterangan resminya, Minggu, 1 Februari 2026.

Selain kebiasaan konsumsi ekstrem, kondisi pasar hewan tradisional juga menjadi sorotan serius. Sanitasi yang tidak memadai dan pengelolaan yang buruk diyakini dapat mempercepat proses penularan virus dari hewan ke manusia, bahkan berpotensi memicu mutasi patogen berbahaya.

Ancaman ini kian mengkhawatirkan mengingat hingga kini dunia medis belum memiliki vaksin maupun obat antivirus khusus untuk Virus Nipah.

Jika terjadi infeksi pada manusia, penanganan yang tersedia masih terbatas pada perawatan suportif tanpa terapi yang dapat membunuh virus secara langsung.

Sejumlah data riset BRIN memperkuat kekhawatiran tersebut, antara lain:

  • Sekitar 19 persen sampel kelelawar di Kalimantan Barat terdeteksi memiliki antibodi Virus Nipah.
  • Keberadaan genom virus dipastikan melalui pemeriksaan PCR pada air liur kelelawar di Sumatera Utara.
  • Virus dengan karakter genetik serupa juga ditemukan pada spesies kelelawar di Jawa dan memiliki kedekatan dengan isolat yang pernah memicu wabah di Malaysia.

Di sisi lain, rendahnya pemahaman masyarakat terkait risiko kontak dengan satwa liar masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

BRIN mendorong edukasi publik yang lebih masif agar masyarakat lebih waspada, mengurangi interaksi dengan satwa liar, serta lebih selektif dalam memilih dan mengolah pangan.

Advertisement

"Tantangan ke depan adalah rendahnya kesadaran masyarakat. Edukasi harus diperkuat agar masyarakat paham bahaya kontak dengan satwa liar dan pangan yang terkontaminasi," pungkas Indi.

Hasyim Ashari/Disway

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID