fin.co.id - Jet tempur AS menembak jatuh sebuah drone Iran di Laut Arab, Selasa, 3 Februari 2026. Drone Iran tersebut ditembak jatuh setelah berupaya mendekati kapal induk AS, USS Abraham Lincoln.
Dilaporkan, USS Abraham Lincoln (CVN 72) sedang melintasi Laut Arab, sekitar 500 mil dari pantai selatan Iran, ketika sebuah drone Iran Shahed-139 bermanuver secara tidak perlu ke arah kapal tersebut.
"Drone Iran tersebut terus terbang menuju kapal, meskipun tindakan de-eskalasi telah dilakukan oleh pasukan AS yang beroperasi di perairan internasional," kata juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins.
Menurut Hawkins, pasukannya memastikan keselamatan personel, kapal, dan pesawat AS di Timur Tengah.
"Gangguan dan ancaman Iran yang terus berlanjut di perairan dan wilayah udara internasional tidak akan ditoleransi. Agresi Iran yang tidak perlu di dekat pasukan AS, mitra regional, dan kapal komersial meningkatkan risiko tabrakan, salah perhitungan, dan destabilisasi regional," tambahnya.
Gedung Putih Puji Reaksi Cepat CENTCOM
Sementara itu, Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada Fox News, bahwa ia telah berbicara dengan Pentagon, yang mengatakan bahwa CENTCOM bertindak "dengan tepat dan perlu" untuk melindungi personel dan peralatan AS di wilayah tersebut.
"Jadi, CENTCOM memang membuat keputusan untuk menembak jatuh drone Iran itu. Drone itu tidak berawak; drone itu bertindak agresif terhadap USS Lincoln kita, yang kita tahu bahwa kapal induk itu berada di wilayah tersebut atas arahan Presiden Trump," kata Leavitt.
Leavitt mengatakan, Presiden AS Donald Trump tetap berkomitmen untuk "selalu" mengejar diplomasi.
"Tetapi agar diplomasi berhasil, tentu saja, dibutuhkan kerja sama dari kedua pihak." "Anda membutuhkan mitra yang bersedia untuk terlibat," tambahnya.
Ia juga menjelaskan, utusan khusus AS, Steve Witkoff dijadwalkan untuk melakukan pembicaraan dengan pihak Iran akhir pekan ini.
"Pembicaraan tersebut masih dijadwalkan hingga saat ini, tetapi tentu saja, presiden selalu memiliki berbagai pilihan, dan itu termasuk penggunaan kekuatan militer, pihak Iran mengetahuinya lebih baik daripada siapa pun," tambahnya.