Nasional . 04/02/2026, 08:25 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
Berita ini ditulis untuk kepentingan informasi dan kepedulian publik. Redaksi tidak bermaksud menginspirasi, menormalisasi, atau membenarkan tindakan bunuh diri dalam bentuk apa pun. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional, depresi, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan dari keluarga, tenaga kesehatan, atau layanan bantuan profesional terdekat.
fin.co.id - Duka mendalam menyelimuti dunia pendidikan di Indonesia. Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya sendiri.
Peristiwa memilukan itu diduga dipicu kekecewaan sederhana namun pahit. Yakni keinginan memiliki buku tulis dan pulpen untuk bersekolah yang tak kunjung terpenuhi.
Korban berinisial YBR diketahui sehari-hari tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun. Kehidupan YBR jauh dari kata cukup. Ibunya, seorang orang tua tunggal, harus berjuang memenuhi kebutuhan lima anak di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas.
Malam sebelum kejadian, YBR sempat berjalan ke desa tetangga untuk menemui sang ibu. Ia datang dengan satu harapan, meminta uang untuk membeli perlengkapan sekolah, buku dan pulpen. Namun permintaan itu tak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” ujar Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, kepada wartawan, dikutip Rabu, 4 Februari 2026.
Kondisi keluarga YBR memang memprihatinkan. Sang ibu harus menanggung beban hidup lima anak seorang diri setelah berpisah dengan suaminya sekitar 10 tahun lalu.
Demi bertahan hidup, ia bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, sementara YBR tinggal bersama neneknya di kampung.
Tragedi itu terungkap pada Kamis, 29 Januari 2026. YBR ditemukan warga dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkih setinggi sekitar 15 meter di kebun milik neneknya.
Warga tersebut awalnya hendak mengikat ternaknya di kebun. Seusai itu, ia berjalan menuju pondok untuk memberi tahu nenek korban agar memperhatikan ternaknya. Di situlah pemandangan memilukan itu terlihat.
Warga segera melaporkan kejadian tersebut. Namun saat aparat kepolisian tiba dan melakukan evakuasi, nyawa YBR sudah tidak tertolong.
Kesedihan semakin mendalam ketika diketahui YBR sempat meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya, MGT (47). Surat itu ditulis menggunakan bahasa daerah setempat.
Berikut isi surat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:
“Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
YBR tinggal terpisah dari ibunya karena kondisi ekonomi yang memaksa. Sang ibu harus berpindah-pindah demi bekerja, sementara neneknya menjadi tempat YBR berteduh dan menjalani hari-hari masa kecilnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media