fin.co.id - Wilayah Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, kembali diguncang gempa bumi yang bersumber dari aktivitas daratan pada Kamis pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bermagnitudo 3,1 tersebut berpusat di kedalaman dangkal yakni 10 kilometer sebelah barat Bonjol.
Meski magnitudonya tergolong kecil, guncangan gempa ini sempat memicu kekhawatiran karena dirasakan cukup nyata di wilayah Padang Panjang, Lubuk Sikaping, Agam, hingga Bukittinggi dengan skala intensitas MMI I-III. Fenomena ini kembali mengingatkan warga akan ancaman nyata Sesar Sumatera atau yang lebih dikenal sebagai Sesar Semangko.
Berbeda dengan ancaman Megathrust yang berada di zona pertemuan lempeng di laut lepas, Sesar Semangko merupakan patahan aktif yang membelah daratan Pulau Sumatera tepat di bawah pemukiman penduduk. Pakar geologi sering menyebut bahwa gempa darat seperti yang terjadi di Pasaman bisa jauh lebih merusak daripada Megathrust karena titik pusatnya yang sangat dangkal dan dekat dengan bangunan warga.
Sejarah mencatat, wilayah Pasaman berada di jalur segmen aktif yang memiliki potensi perulangan gempa merusak. Getaran yang bersumber dari darat tidak memerlukan magnitudo besar untuk merobohkan bangunan, karena gelombang seismiknya langsung menghantam permukaan tanpa teredam oleh kedalaman laut.
Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa pagi tadi. Namun, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan. Warga juga diminta untuk memastikan konstruksi bangunan mereka cukup kuat menghadapi guncangan vertikal maupun horizontal yang menjadi ciri khas patahan darat Sumatera.
Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat edukasi mitigasi bencana, mengingat posisi Pasaman yang berada tepat di "jalur merah" patahan darat yang sewaktu-waktu dapat melepaskan energi kinetik yang besar.