Puan Maharani: Tragedi Siswa SD di Ngada NTT Jadi Teguran Keras untuk Negara

news.fin.co.id - 05/02/2026, 16:06 WIB

Puan Maharani: Tragedi Siswa SD di Ngada NTT Jadi Teguran Keras untuk Negara

Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan ucapan Selamat Natal 2025 kepada umat Nasrani di seluruh Indonesia.

fin.co.id - Ketua DPR RI Puan Maharani menilai peristiwa tragis yang menimpa seorang siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menjadi pelajaran serius bagi semua pihak. Anak tersebut diketahui mengakhiri hidupnya lantaran tidak mampu membeli buku dan perlengkapan belajar.

“Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada tersebut tentunya merupakan duka yang cukup memilukan dan harus menjadi pembelajaran,” ujar Puan dalam keterangan resminya, Kamis, 5 Februari 2026.

Menurut Puan, kejadian ini menunjukkan bahwa masih ada kebutuhan dasar anak yang belum terpenuhi secara layak. Kondisi tersebut, kata dia, merupakan bentuk peringatan bagi negara agar lebih hadir dalam menjamin hak-hak anak.

Ia menegaskan bahwa kebijakan pendidikan tidak bisa berhenti pada penyediaan sekolah gratis semata. Kebutuhan pendukung seperti alat tulis, buku, dan perlengkapan belajar lainnya juga kerap menjadi hambatan serius, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Advertisement

“Program-program pendidikan terutama beasiswa dan bantuan pendidikan harus bisa mengatasi persoalan ini,” imbuh Puan.

“Sekolah harus bisa memetakan latar belakang anak didiknya, dan memastikan setiap kebutuhan pendidikan dapat diberikan,” lanjutnya.

Sebelumnya, seorang anak berusia 10 tahun berinisial YBR ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di sebuah pohon di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, pada Kamis, 29 Januari 2026. Korban diketahui merupakan siswa kelas IV Sekolah Dasar.

Saat proses evakuasi, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan berbahasa daerah Bajawa. Surat tersebut ditulis oleh YBR dan ditujukan kepada ibunya.

Hingga kini, kepolisian masih mendalami penyebab pasti kejadian tersebut, termasuk dugaan bahwa korban mengalami tekanan emosional akibat tidak dibelikan perlengkapan sekolah oleh orang tuanya karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Anisha Aprilia/Disway

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID