Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan kapasitas awal proyek nuklir dipatok sekitar 500 MW.
“Lokasinya di Sumatra dan Kalimantan,” kata Bahlil dalam konferensi pers sebelumnya.
Pemilihan dua wilayah tersebut telah melalui kajian kelayakan, termasuk aspek geologi, kebutuhan listrik regional, serta prioritas pengembangan sistem energi nasional.
Target Operasi Sekitar 2032
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai regulasi pendukung pembangunan PLTN.
Ia memperkirakan konstruksi membutuhkan waktu empat hingga lima tahun.
“Rencana kami selesai pada 2032, pembangunannya empat sampai lima tahun,” ujarnya.
Artinya, jika proyek dimulai pada 2027, maka PLTN pertama Indonesia berpotensi mulai beroperasi di awal dekade 2030-an.
Target Tambahan Listrik Nasional 69,5 GW
Dalam RUPTL terbaru, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik nasional mencapai 69,5 GW hingga 2034.
Menariknya, mayoritas penambahan listrik berasal dari energi bersih.
Rinciannya:
-
Energi Baru Terbarukan (EBT): 42,6 GW (61%)
-
Storage (penyimpanan energi): 10,3 GW (15%)
-
Fosil: 16,6 GW (24%)