Fin.co.id – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,2 yang mengguncang Pacitan, Jawa Timur, pada Jumat, 6 Februari 2026, bukan peristiwa biasa. Gempa yang bersumber dari zona megathrust ini ibarat lampu kuning alias alarm. Pulau Jawa hidup di atas akumulasi energi tektonik raksasa yang “menunggu waktu” untuk dilepaskan.
Ini bukan ramalan kiamat. Melainkan penilaian ilmiah berdasarkan siklus gempa dan konsep seismic gap atau celah seismik.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam berbagai kesempatan kerap menyoroti dua zona megathrust yang masuk kategori sangat mengkhawatirkan.
Megathrust Selat Sunda
- Panjang segmen sekitar 280 kilometer.
- Terakhir melepaskan energi dahsyat pada tahun 1699 dan 1780 dengan kekuatan sekitar Magnitudo 8,5.
- Segmen ini telah berdiam diri selama lebih dari dua abad.
Megathrust Mentawai–Siberut
- Panjang segmen sekitar 200 kilometer.
- Periode tenangnya bahkan lebih panjang.
- Gempa terakhir tercatat pada tahun 1797 dengan kekuatan Magnitudo 8,7 dan tahun 1833 dengan Magnitudo 8,9.
“Kami katakan ‘menunggu waktu’ hal itu karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah release. Tinggal segmen tersebut yang belum lepas,” jelas Daryono.
Dua zona megathrust ini diibaratkan seperti permen karet yang ditarik terus-menerus.
Lempeng tektonik terus bergerak dengan laju sekitar 4 sentimeter per tahun, mengakumulasi tekanan di zona yang mengalami penguncian.
Semakin lama periode diamnya, semakin besar potensi energi yang akan dilepaskan saat akhirnya patahan tersebut pecah.
Daryono dengan tegas meluruskan kesalahpahaman publik terkait istilah “tinggal menunggu waktu”.
Menurutnya, frasa tersebut sama sekali bukan peringatan dini bahwa gempa besar akan terjadi dalam hitungan hari, minggu, atau bulan.
“Munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona megathrust saat ini bukanlah bentuk peringatan dini (warning) yang seolah-olah dalam waktu dekat akan segera terjadi gempa besar. Tidak demikian,” papar Daryono melalui akun X miliknya.