Nasional . 07/02/2026, 11:13 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id – Wilayah Pacitan, Jawa Timur, yang sempat diguncang gempa megathrust kuat pada Sabtu, 7 Februari 2026, mulai menunjukkan tanda-tanda stabil. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan frekuensi gempa susulan terus menurun.
Meski sempat memicu kekhawatiran publik karena berada di jalur megathrust selatan Jawa, BMKG menegaskan gempa utama tidak mencapai magnitudo kritis pemicu tsunami.
“Frekuensi gempa susulan sudah menurun dan kejadian semakin jarang,” ujar Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Hingga Sabtu pagi, 7 Februari 2026, BMKG mencatat sebanyak 24 kali gempa susulan di wilayah Pacitan dan sekitarnya. Rinciannya adalah:
Sebagian besar gempa susulan tergolong kecil dan tidak dirasakan masyarakat secara signifikan.
“Sudah terjadi 24 gempa susulan. Magnitudo terbesar M 4,0 dan yang terkecil M 2,2,” jelas Daryono.
BMKG mengungkapkan aktivitas gempa susulan paling padat terjadi pada Jumat dini hari, 6 Februari 2026.
Dalam rentang waktu pukul 01.00 hingga 06.00 WIB, tercatat sebanyak 11 gempa susulan. Kondisi tersebut membuat warga kembali waspada meskipun kekuatan gempa relatif kecil.
“Setelah pagi hari, aktivitas gempa susulan berangsur menurun,” imbuh Daryono.
Gempa utama yang mengguncang Pacitan terjadi pada Jumat dini hari, 6 Februari 2026, pukul 01.06.33 WIB. Analisis awal BMKG mencatat kekuatan gempa M 6,4, yang kemudian dimutakhirkan menjadi M 6,2.
BMKG menegaskan bahwa meskipun termasuk gempa megathrust, kekuatannya tidak mencapai magnitudo 7,0 sehingga tidak memicu tsunami.
“Alhamdulillah, patut disyukuri gempa Pacitan ini tidak mencapai magnitudo 7. Karena jika lebih besar berpotensi tsunami,” terang Daryono.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media