fin.co.id - Kasus dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) masih mewarnai pelaksanaan program andalan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini. Memasuki tahun kedua pelaksanaan program, dugaan keracunan menu MBG muncul di sana-sini.
Imbasnya, sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ditutup sementara, sambil dilakukan evaluasi dan pembenahan internal.
Seperti yang terjadi pada SPPG Bukit Batu, Kecamatan Singkawang Tengah, Kalimantan Barat (Kalbar). SPPG Bukit Batu dinonaktifkan sementara menyusul dugaan keracunan menu MBG yang dialami puluhan siswa MAN Model Singkawang.
Kepala SPPG Bukit Batu, Maulidi Ikhsan mengatakan, penghentian operasional sementara tersebut mulai diberlakukan sejak Senin, 9 Februari 2026, berdasarkan arahan Badan Gizi Nasional (BGN), dengan batas waktu yang belum ditentukan.
“Benar, operasional SPPG Bukit Batu dinonaktifkan sementara sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” kata Maulidi, Selasa, 10 Februari 2026, dikutip Antara.
Menurutnya, masa penghentian sementara ini akan dimanfaatkan pihaknya untuk melakukan pembenahan internal serta melengkapi seluruh persyaratan yang dibutuhkan, sambil menunggu rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kota Singkawang sebagai dasar untuk kembali beroperasi.
Sebelum dinonaktifkan, SPPG Bukit Batu melayani pendistribusian MBG ke 14 sekolah dengan jumlah penerima lebih dari 3.000 siswa setiap harinya.
Satu SPPG di Lombok Tengah Ditutup Sementara
Kebijakan serupa diberlakukan pada SPPG di wilayah Desa Darmaji, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
"Saat ini ada satu SPPG yang ditutup sementara dari 114 SPPG yang telah beroperasi di Lombok Tengah," kata Ketua Sekretariat Satgas MBG Kabupaten Lombok Tengah, Lalu Setiawan.
Ia mengatakan, penutupan sementara tersebut dilakukan berdasarkan surat keputusan dari Badan Gizi Nasional, karena adanya kasus yang menonjol terjadi di wilayah sasaran SPPG tersebut.
"Ditutup sementara pasca adanya kasus keracunan menu makanan MBG yang disalurkan SPPG tersebut," katanya.
Ia mengatakan, berdasarkan hasil uji laboratorium, penyebab pelajar tersebut mengalami keracunan, karena susu susu kemasan yang dibagikan kepada siswa di Desa Darmaji Kecamatan Kopang, terkontaminasi bakteri berbahaya hingga menyebabkan 38 siswa keracunan.
"Susu yang diberikan kedaluwarsa mengandung bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus serta Bacillus cereus," katanya.