Fin.co.id – Tradisi mudik tak hanya terjadi di Indonesia saat momen Lebaran. Di China juga ada, namanya: Chunyun.
Tradisi ini dilakukan rakyat Tiongkok menjelang perayaan Imlek Kongzili 2577. Puncaknya terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026.
Selama periode 40 hari, jutaan orang bergerak serentak demi satu tujuan: pulang ke kampung halaman.
Apa Itu Chunyun?
Istilah Chunyun secara harfiah bermakna "transportasi musim semi".
Periode ini biasanya dimulai sejak 15 hari sebelum perayaan Tahun Baru Imlek.
Bagi masyarakat Tionghoa, momen ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan kewajiban moral untuk reuni keluarga dan makan malam bersama yang sakral.
Chunyun adalah detak jantung budaya Tiongkok. Sejauh apa pun seseorang merantau, keluarga tetap menjadi titik balik utama.
Di tengah lonjakan mobilitas yang luar biasa besar, sektor perkeretaapian menjadi garda terdepan sekaligus yang paling terdampak.
Kereta api tetap menjadi primadona bagi pekerja migran dan kelas menengah di Tiongkok untuk menempuh perjalanan antarkota.
Dampaknya, stasiun-stasiun besar bertransformasi menjadi lautan manusia dengan antrean mengular hingga berjam-jam.
Sama seperti di Indonesia, warga Tiongkok juga berebut tiket kereta api selama periode Chunyun.
Dari Pekerja Migran Hingga Wisatawan
Ada tiga faktor utama yang menyebabkan arus mudik ini begitu meledak setiap tahunnya: