Nasional . 12/02/2026, 15:26 WIB
Penulis : Sahroni | Editor : Sahroni
Jika hilal memenuhi kriteria visibilitas, maka tanggal tersebut akan dikukuhkan. Sebaliknya, jika belum terlihat, awal Ramadan bisa bergeser satu hari.
Nahdlatul Ulama pada prinsipnya mengikuti mekanisme rukyatul hilal langsung di lapangan. Hasil pengamatan kemudian dibahas dalam sidang isbat bersama pemerintah.
Dengan pendekatan ini, awal puasa versi NU umumnya selaras dengan keputusan resmi negara. Artinya, tanggal pastinya sangat bergantung pada hasil rukyat.
Jika hilal terlihat, maka Ramadan dimulai sesuai keputusan pemerintah. Jika tidak, ada kemungkinan pergeseran.
Muhammadiyah, melalui metode hisab hakiki wujudul hilal dan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), telah menetapkan bahwa:
1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026
Keputusan ini didasarkan pada kalkulasi astronomi, tanpa menunggu pengamatan visual hilal. Perspektif ini memberi sudut pandang berbeda terkait kapan ramadhan dimulai, khususnya dalam konteks perbedaan metode.
Jika mengikuti kalender pemerintah:
Jika mengikuti Muhammadiyah:
Perbedaan satu hari seperti ini bukan hal baru dalam penentuan kalender Hijriah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media