fin.co.id - Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dikenal sebagai pusat ekonomi nasional dengan kepadatan penduduk sangat tinggi.
Namun di balik pesatnya pembangunan dan urbanisasi, tersimpan potensi ancaman geologi yang tak bisa diabaikan: Sesar Cisadane.
Struktur patahan aktif ini membentang dari Bogor hingga Tangerang dan berada di bawah kawasan urban padat.
Sejumlah hasil survei geologi terbaru, termasuk pemetaan dengan teknologi LiDAR, mengindikasikan adanya aktivitas tektonik signifikan di sepanjang jalurnya. Jika terjadi gempa, dampaknya berpotensi dirasakan jutaan warga Jabodetabek.
1. Apa Itu Sesar Cisadane?
Sesar Cisadane merupakan sesar mendatar (strike-slip fault) berorientasi Tenggara–Barat Laut. Jalurnya mengikuti aliran Sungai Cisadane dan melintasi wilayah strategis seperti Bogor, Cibinong, Tangerang Selatan, hingga Tangerang.
Keberadaannya menambah daftar patahan aktif yang mengelilingi Jakarta, termasuk:
- Sesar Baribis di sisi selatan
- Sesar Citarik di sisi timur
Kombinasi sesar-sesar ini membentuk sistem tektonik kompleks yang meningkatkan potensi risiko gempa di kawasan metropolitan terbesar di Indonesia.
2. Jejak Geologis yang Terlihat Jelas
Berdasarkan temuan Badan Geologi Kementerian ESDM, aktivitas sesar dapat diamati di wilayah Rumpin, Kabupaten Bogor.
Salah satu bukti paling mencolok adalah terpisahnya:
- Gunung Nyungcung
- Gunung Panjang
Gunung Nyungcung tersusun dari batuan pasir gampingan yang dulunya merupakan dasar laut dan terangkat akibat proses tektonik.