Prabowo Subianto Klaim Tingkat Keracunan MBG Lebih Baik dari Jepang dan Eropa

news.fin.co.id - 13/02/2026, 13:49 WIB

Prabowo Subianto Klaim Tingkat Keracunan MBG Lebih Baik dari Jepang dan Eropa

Warga Palmerah antusias menyambut kedatangan Presiden Prabowo Subianto yang menaiki Maung putih saat peresmian SPPG Polri.Foto:Disway.id

fin.co.id - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan klaim bahwa tingkat kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia lebih rendah dibandingkan Jepang dan negara-negara di Eropa.

Dalam peresmian SPPG Palmerah, Jumat, 13 Februari 2026, Prabowo mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan yang diterimanya, terdapat sekitar 28.000 penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan seperti sakit perut dan dugaan keracunan dari total 4,5 miliar porsi yang telah didistribusikan.

“Saya dapat laporan sampai hari ini sudah kurang lebih 28.000 penerima manfaat yang mengalami gangguan, dikatakan keracunan, sakit perut dan sebagainya. 28.000 dari 4,5 miliar. Kalau tidak salah itu adalah 0,0006. 0,0006. Artinya 99,9994,” kata Prabowo.

Ia menilai secara statistik angka tersebut menunjukkan tingkat keberhasilan program yang sangat tinggi. Menurutnya, hampir tidak ada program buatan manusia yang mampu mencapai tingkat keberhasilan 100 persen.

Advertisement

“Itu kalau statistik ya, itu kan dibulatkan ke atas. Berarti apa? 99,999 itu berhasil itu. Iya kan? Di mana ada usaha manusia yang 100%? Ada, tapi tidak gampang dicapai,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Prabowo menyebut dirinya menerima laporan yang menunjukkan bahwa tingkat insiden dalam program MBG Indonesia saat ini lebih baik dibandingkan Jepang maupun Eropa. Namun, ia meminta agar data tersebut tetap diverifikasi.

“Saya dapat laporan kemarin, ini tolong diverifikasi. Tapi saya dapat laporan, kita punya statistik hari ini. Insya Allah kita pertahankan, kalau bisa kita kurangi lagi. Kita punya statistik itu lebih baik dari Jepang dan lebih baik dari Eropa,” tuturnya.

Meski menyampaikan capaian tersebut, Presiden mengingatkan seluruh jajaran agar tidak bersikap berlebihan.

“Jangan kita sombong, jangan petentang-petenteng. Kesombongan adalah awal kehancuran. Semakin berisi semakin menunduk, itu ilmu padi nenek moyang kita,” pungkasnya.

Anisha Aprilia/Disway 

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID