Nasional . 14/02/2026, 16:13 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Momen berbuka puasa bukan sekadar waktu untuk mengakhiri rasa lapar dan dahaga. Ia adalah puncak dari ibadah harian selama bulan Ramadhan, ketika dimensi spiritual dan ketepatan waktu bertemu dalam satu titik yang sangat istimewa.
Secara ilmiah, waktu berbuka dimulai ketika matahari benar-benar terbenam di ufuk barat. Dalam perspektif ilmu falak, hal ini ditandai dengan hilangnya seluruh piringan matahari dari cakrawala. Secara spiritual, detik tersebut menjadi salah satu waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa.
“Bagi orang yang berpuasa, ada doa yang tidak akan ditolak ketika ia berbuka.”
Hadits ini menunjukkan bahwa waktu berbuka bukan hanya momen makan, tetapi juga saat terbaik untuk bermunajat kepada Allah SWT. Karena itu, penting memahami doa berbuka puasa yang sesuai sunnah agar ibadah semakin sempurna.
Dalam kajian astronomi Islam, waktu Maghrib dimulai ketika matahari sepenuhnya tenggelam di bawah garis ufuk. Perhitungan ini dilakukan secara matematis dan observasional, sehingga memiliki dasar ilmiah yang presisi.
Fenomena terbenamnya matahari inilah yang menjadi tanda berakhirnya waktu puasa secara syar’i. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk menyegerakan berbuka ketika azan Maghrib telah berkumandang.
Di tengah masyarakat, terdapat beberapa versi doa berbuka puasa yang umum diamalkan. Berikut penjelasan berdasarkan riwayat hadis.
Doa ini memiliki sanad yang kuat dan dinilai sahih atau hasan oleh para ulama hadis.
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media