fin.co.id - Saat senja menyelimuti Gaza pada Selasa, 17 Februari 2026, barisan jemaah berdiri untuk salat. Mereka tidak menunaikan salat di dalam masjid, tetapi di atas reruntuhannya.
Untuk pertama kalinya dalam kurun dua tahun sejak berakhirnya perang Hamas-Israel, warga Palestina di Gaza melaksanakan salat tarawih di halaman yang dipenuhi puing-puing dan di tempat salat darurat yang terbuat dari lembaran nilon dan papan kayu.
Tersisanya puing-puing masjid masih patut disyukuri. Sebab, banyak masjid di seluruh wilayah Gaza, saat ini sudah tidak ada lagi. Masjid-masjid itu telah rata dengan tanah akibat serangan Israel.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, lebih dari 1.015 masjid hancur atau rusak selama perang. Setidaknya 835 masjid rata dengan tanah, sementara puluhan lainnya masih berdiri sebagian sebagai reruntuhan dari apa yang dulunya merupakan pusat berkumpul bagi lingkungan mereka.
Sebagai pengganti kubah dan menara, terpal plastik kini tergantung. Sebagai pengganti lantai marmer, jemaah berlutut di atas beton dan pasir yang tidak rata.
Drone pengintai Israel terus berputar-putar di atas beberapa bagian wilayah tersebut saat salat dimulai, lapor seorang koresponden Anadolu.
Masjid Al-Omari yang Bersejarah di Gaza
Di Kota Tua Gaza, warga kembali ke Masjid Al-Omari yang bersejarah, salah satu masjid terbesar dan tertua di Palestina.
Pertama kali didirikan lebih dari 14 abad yang lalu, masjid tersebut mengalami kehancuran hampir total dalam pemboman yang didokumentasikan pada Desember 2023.
Sebagian struktur sejak itu ditutupi dengan material sementara untuk memungkinkan akses terbatas bagi para jemaah. Meskipun kerusakannya luas, ratusan orang berkumpul di sana untuk salat Maghrib.
“Bahkan setelah semua yang terjadi, orang-orang lebih memilih untuk salat di sini,” kata Muawiya Kashko, seorang jemaah dari lingkungan Zeitoun.
“Selama perang, kami mati setiap hari. Tapi ini tetap masjid kami,” tegasnya.
Jamaah lain, Abu Abdullah Khalaf, mengatakan kembali ke tempat itu memiliki makna simbolis yang mendalam.
“Kami berdiri di sini meskipun ada kehancuran. Kami menginginkan bantuan. Kami menginginkan stabilitas,” ujarnya.