fin.co.id - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Laporan media menyebutkan pasukan Negeri Paman Sam sudah berada dalam posisi siaga penuh untuk kemungkinan melancarkan serangan mulai Sabtu.
Informasi tersebut diungkap oleh CBS News yang melaporkan bahwa militer AS telah bersiap menghadapi berbagai skenario. Meski begitu, keputusan akhir belum diketuk palu. Presiden Donald Trump dikabarkan masih mempertimbangkan apakah operasi militer benar-benar akan dijalankan atau tidak.
Di tengah ancaman terbuka itu, jalur diplomasi tetap berjalan. Pertemuan terbaru antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran digelar di Jenewa pada Selasa. Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh utusan presiden, Steve Witkoff, sementara Iran diwakili Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Namun, nada keras dari Gedung Putih tak mereda. Pada 4 Februari, Trump secara terbuka menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, “seharusnya sangat khawatir.” Ia bahkan mengancam akan melakukan “hal-hal yang sangat buruk” jika Iran tetap melanjutkan program nuklirnya di fasilitas baru.
Pernyataan tersebut mempertegas sikap keras Washington terhadap ambisi nuklir Teheran. Sebelumnya, Trump juga mengklaim bahwa sebuah “armada besar” sedang bergerak menuju kawasan sekitar Iran. Meski mengedepankan ancaman militer, ia tetap menyatakan harapan agar Teheran bersedia duduk di meja perundingan dan menyepakati kesepakatan yang disebutnya “adil dan merata,” dengan syarat penghentian total senjata nuklir.
Presiden AS itu menegaskan, kegagalan mencapai kesepakatan soal program nuklir Iran akan berujung pada serangan yang “jauh lebih buruk” dibandingkan operasi sebelumnya. Pernyataan tersebut semakin mempertebal ketidakpastian di kawasan, sekaligus menempatkan dunia pada posisi siaga menghadapi potensi eskalasi besar. *