fin.co.id - Tubuh HS, bocah sembilan tahun asal Kampung Tobat, Desa Sentul Jaya, Balaraja, kini hanya bisa terbaring lemah. Di usia yang seharusnya penuh dengan tawa dan langkah kaki yang lincah, HS justru harus bergelut dengan komplikasi berat Cerebral Palsy dan Organic Brain Syndrome (OBS).
Kondisi HS yang memprihatinkan ini memicu perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tangerang. Pada Rabu (18/2/2026), Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, menyambangi kediaman sederhana HS untuk melihat langsung kondisi kesehatan sang bocah yang kian rentan.
Bukan sekadar hambatan motorik, penyakit saraf yang diderita HS telah berdampak luas pada perkembangan fisik dan kognitifnya. Saat dikunjungi, kondisi HS diperparah dengan demam tinggi yang menyerang tubuh mungilnya. Penanganan medis yang bersifat berkelanjutan menjadi harga mati agar kondisinya tidak semakin merosot.
“Kami hadir untuk memastikan Ananda HS mendapatkan pelayanan medis yang layak secara gratis dan sistem 'jemput bola' untuk penanganan lanjutannya,” ujar Intan di sela-sela kunjungannya, sebagaimana dikutip dari Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Tangerang.
Meski tim medis Puskesmas Balaraja telah melakukan pendekatan proaktif sejak November 2025, langkah penyembuhan HS sempat terganjal tembok dilema keluarga. Sang ayah, Suheli, dan sang ibu, Masitoh, sebelumnya merasa keberatan untuk merujuk HS ke rumah sakit. Faktor pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan menjadi alasan utama di balik keraguan mereka—sebuah potret nyata betapa beban ekonomi seringkali berbenturan dengan urusan nyawa.
Menanggapi hal tersebut, Intan menegaskan bahwa pemerintah daerah telah menjamin seluruh biaya pengobatan melalui BPJS yang aktif. Bahkan, kendala logistik pun telah dicarikan solusinya.
“Kendala transportasi seharusnya sudah tidak ada lagi. Ada mobil siaga desa yang siap mengantar-jemput ke rumah sakit. Tinggal bicara dengan Pak Lurah, semua biaya transport sudah tertutup,” tegas Intan kepada pihak keluarga.
Sebagai langkah darurat, bidan desa dan kepala puskesmas setempat telah memberikan penanganan awal untuk meredakan demam HS. Namun, Intan mendorong agar HS segera dialihkan ke RSU Kabupaten Tangerang yang memiliki fasilitas dokter spesialis anak dan peralatan medis yang lebih mumpuni.
Kunjungan ini diakhiri dengan pemberian bantuan sembako dan susu khusus untuk memperbaiki asupan gizi HS. Kini, bola berada di tangan sinergi antara pemerintah dan kerelaan keluarga, dengan satu tujuan utama, memberikan kesempatan bagi HS untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik di tengah keterbatasannya.