fin.co.id - Kawasan pesisir selatan Jawa kini berada dalam bayang-bayang ancaman serius dari alam. Berdasarkan analisis terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), keberadaan zona megathrust menyimpan potensi gelombang laut ekstrem dan tsunami yang bisa menerjang kapan saja. Salah satu infrastruktur vital yang kini menjadi pusat perhatian adalah Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang berdiri tepat di bibir Samudra Hindia.
Posisi geografis Bandara YIA memang tergolong sangat berisiko. Bandara megah ini terletak di antara dua aliran sungai besar, yakni Sungai Serang di sisi timur dan Sungai Bogowonto di sisi barat. Letaknya yang berada di dataran rendah pesisir membuat YIA menuntut tingkat kewaspadaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan bandara lainnya di Indonesia. Khusnul Setia Wardani, periset dari Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, menegaskan bahwa intervensi bangunan pantai dan perubahan tata guna lahan di selatan YIA telah memicu ketidakseimbangan sedimen yang berujung pada erosi lokal.
Menghadapi risiko bencana yang mengerikan tersebut, BRIN memperkenalkan strategi pertahanan canggih yang bernama Bauran Nature-based Solutions (NbS). Pendekatan ini tidak hanya mengandalkan struktur beton yang kaku, tetapi mengombinasikannya dengan elemen alam guna menciptakan sistem perlindungan berlapis atau multi-layer defense. Khusnul berharap penerapan NbS ini dapat menjadi solusi mitigasi bencana pesisir yang efektif tanpa merusak ekosistem asli.
Sistem perlindungan NbS ini bekerja dengan cara yang sangat detail. Pada lapisan terdepan di zona laut, struktur keras berupa groin dan tanggul laut bertugas memecah energi awal gelombang. Sementara itu, di area daratan, dilakukan pengisian pasir pantai (sand nourishment) dan penanaman vegetasi pantai yang lebat sebagai peredam alami. Kombinasi antara struktur hibrid seperti dike (tanggul) dan zona hijau ini dirancang khusus untuk memperlambat laju air jika sewaktu-waktu tsunami menerjang daratan.
Tanpa adanya manajemen sedimen yang terpadu dan revegetasi yang berkelanjutan, stabilitas pesisir di sekitar Bandara YIA diprediksi akan menurun dalam jangka panjang. Oleh karena itu, langkah mitigasi yang sedang dikembangkan BRIN menjadi kunci utama untuk menjaga keamanan ribuan penumpang dan aset negara senilai triliunan rupiah tersebut. Publik kini berharap teknologi ini benar-benar mampu menjadi benteng kokoh dalam menghadapi amukan Samudra Hindia di masa depan.