Dikritik Mahasiswa, Bupati Tangerang Pilih Berterima Kasih

news.fin.co.id - 25/02/2026, 14:51 WIB

Dikritik Mahasiswa, Bupati Tangerang Pilih Berterima Kasih

Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid usai memimpin Apel Besar tiga Pilar dalam rangka menjaga kondusifitas wilayah Kabupaten Tangerang. (rfh)

fin.co.id -  Alih-alih reaktif, Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid menunjukkan sikap kenegarawanan saat menghadapi gelombang kritik dari kelompok mahasiswa. Meski kepemimpinannya bersama Intan Nurul Hikmah diberi "rapor merah" oleh mahasiswa, Maesyal justru menyambut evaluasi tersebut dengan tangan terbuka.

Sikap tenang ini ditunjukkan Maesyal usai aksi unjuk rasa di depan Gedung Bupati Tangerang, Tigaraksa, pada Senin (23/2/2026) yang sempat berakhir ricuh.

"Saya terima kasih ya kalau sudah diberikan rapor merah," ujar Maesyal dengan nada tenang kepada wartawan, Rabu (25/2/2026).

Menjawab dengan Kinerja

Advertisement

Meski menerima kritik tersebut sebagai masukan, Maesyal tak menampik rasa herannya terhadap parameter penilaian yang digunakan. Ia menegaskan bahwa sejak dilantik, dedikasinya untuk Kabupaten Tangerang dilakukan tanpa jeda, bahkan di hari libur.

"Mereka menilai dari sisi apa? Mungkin dianggap saya tidak berbuat apa-apa. Padahal sejak dilantik sampai sekarang, Sabtu-Minggu pun saya tidak pernah libur," tuturnya.

Mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang ini kemudian memaparkan sejumlah capaian konkret, terutama di sektor pendidikan yang menjadi prioritas utamanya. Ia merinci bahwa pemerintah daerah telah memulai program sekolah gratis secara bertahap untuk jenjang SD dan SMP swasta.

Tak hanya itu, program beasiswa bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) telah menyentuh 235 mahasiswa untuk kuliah hingga ke luar negeri pada tahun 2025. "Peningkatan kompetensi guru PAUD juga menjadi fokus dengan alokasi kuliah bagi 400 pengajar," imbuhnya.

Sentuhan Humanis

Maesyal menyebut program-program tersebut telah dirasakan langsung oleh akar rumput. Ia menceritakan momen emosional saat bertemu dengan para orangtua penerima manfaat yang merasa terbantu secara ekonomi.

"Program itu untuk anak-anak yang orangtuanya terbatas ekonominya. Mereka sampai menangis (haru) di depan saya," kenang Maesyal.

Baginya, pendidikan adalah hak dasar yang tidak boleh terputus karena kendala biaya. Ia berkomitmen untuk menambah kuota beasiswa dan program pendidikan pada tahun 2026 mendatang.

"Ini awal agar anak-anak Kabupaten Tangerang jangan sampai putus sekolah," pungkasnya.

Advertisement

Sikap Maesyal yang memilih berterima kasih atas kritik menjadi pesan bahwa dialektika antara penguasa dan mahasiswa adalah hal lumrah dalam demokrasi, selama dijawab dengan kerja nyata di lapangan.

Rikhi Ferdian Herisetiana
Rikhi Ferdian Herisetiana
Penulis

Reporter FIN.CO.ID untuk daerah Tangerang.