fin.co.id - Civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) II Riau mendadak gempar. Sebuah insiden berdarah menimpa seorang mahasiswi bernama Faradhila Ayu Pramesi (23) yang sedang mempersiapkan langkah penting dalam studinya.
Faradhila yang menjadi korban penganiayaan berat oleh seorang rekan mahasiswanya sendiri tepat saat hendak menjalani seminar proposal (sempro) skripsi.
Aparat kepolisian bergerak cepat mengamankan pelaku berinisial R (21) tak lama setelah aksi brutal tersebut terjadi. Peristiwa memilukan ini berlangsung di lantai dua gedung Fakultas Hukum dan Syariah pada Kamis pagi, sekitar pukul 08.30 WIB.
Kronologi Kejadian di Area Kampus
Kepala Bidang Humas Polda Riau, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, mengonfirmasi bahwa penyidik telah mengamankan tersangka R ke Polsek Binawidya. Polisi saat ini tengah mendalami motif di balik tindakan nekat pelaku yang menggunakan senjata tajam di lingkungan pendidikan.
"Tersangka saat ini menjalani proses hukum lebih lanjut. Tim penyidik juga sudah merampungkan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengumpulkan alat bukti secara profesional," ujar Pandra dalam keterangan resminya.
Berdasarkan laporan medis, korban mengalami luka serius pada bagian kepala dan lengan akibat sabetan senjata tajam. Sesaat setelah kejadian, rekan-rekan korban langsung melarikan Faradhila ke IGD RS Bhayangkara Pekanbaru untuk mendapatkan pertolongan pertama. Mengingat kondisi luka yang cukup parah, pihak rumah sakit berencana merujuk korban ke RSUD Arifin Achmad guna mendapatkan perawatan intensif dan operasi lanjutan.
Berawal dari Pertemuan di Posko KKN
Terdapat bocoran awal kedekatan R dengan Farahdhila yang dilansir dari akun facebook kata-kata bijak yang dilihat pada Jumat 27 Februari 2026. Tragedi ini diduga kuat berakar dari obsesi berlebihan pelaku terhadap korban yang tumbuh sejak masa Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Rekan-rekan satu tim KKN mengenal R sebagai sosok yang sangat tertutup, introvert, dan jarang berkomunikasi. Sebaliknya, Faradhila atau yang akrab disapa Fara, merupakan sosok mahasiswi yang ceria, supel, dan memiliki jiwa humanis yang tinggi. Perbedaan karakter inilah yang menjadi awal mula benih bencana itu muncul.
Demi menjaga kekompakan tim dan menyukseskan program kerja KKN, Fara berinisiatif mendekati R secara personal. Ia mencoba mengajak R berkomunikasi agar pria tersebut bisa berbaur dengan anggota tim lainnya. Namun, perhatian murni sebagai rekan kerja tersebut rupanya disalahtafsirkan oleh R.
R, yang diduga jarang mendapatkan perhatian dari lawan jenis, mulai menyimpan perasaan mendalam kepada Fara. Padahal, saat itu Fara sudah memiliki kekasih dan secara terbuka menjaga batas hubungan profesional. Hingga masa KKN berakhir, R terus membayangi aktivitas Fara di kampus.
Sifat protektif R berubah menjadi obsesi yang mengkhawatirkan. Ia sering menunggu Fara di depan ruang kelas dan mendatangi korban secara tiba-tiba di berbagai kesempatan. Karena merasa tidak nyaman dan risih, Fara akhirnya mengambil sikap tegas dengan meminta R untuk menjauhinya.
Penolakan tegas tersebut rupanya membuat R kehilangan akal sehat. Alih-alih mundur, ia justru merasa sakit hati dan memendam amarah yang memuncak. Puncaknya, pada hari Kamis yang seharusnya menjadi hari bersejarah bagi Fara untuk mempresentasikan proposal skripsinya, R justru datang membawa senjata tajam dan meluapkan amarahnya secara brutal.
Perlu diingat jika kronologi kedekatan antara pelaku dan korban baru terungkap melalui media sosial yang beredar belum ada konfirmasi langsung dari pihak kepolisian.(*).