Jusuf Kalla Bongkar! Upaya Indonesia Jadi Mediator Iran-Israel AS? Mustahil dan Penuh Bahaya!

news.fin.co.id - 01/03/2026, 17:07 WIB

Jusuf Kalla Bongkar! Upaya Indonesia Jadi Mediator Iran-Israel AS? Mustahil dan Penuh Bahaya!

Jusuf Kalla saat mengikuti Aksi Bela Palestina di Monas, Jakarta

Berikut intisari beritanya:

  • Mantan Wapres RI, Jusuf Kalla (JK), meragukan kemampuan Indonesia menjadi mediator konflik Iran-Israel-Amerika Serikat karena ketidakseimbangan kekuatan antarnegara, terutama dominasi AS.
  • JK menekankan meski Indonesia jauh dari pusat konflik, dampaknya tetap akan terasa di sektor energi dan perdagangan, termasuk potensi kenaikan harga minyak dan kelangkaan bahan bakar.
  • Cadangan energi nasional Indonesia diperkirakan hanya cukup untuk tiga minggu jika konflik berkepanjangan.
  • Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026, yang kemudian dikonfirmasi media pemerintah Iran.
  • Trump dan Netanyahu sebelumnya menyatakan serangan besar-besaran ini berhasil menewaskan Khamenei, dan Trump mendorong warga sipil Iran untuk merebut pemerintahan.

fin.co.id - Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), mengaku ragu terkait wacana Presiden RI, Prabowo Subianto, yang ingin memediasi perdamaian antara Iran dan Israel-Amerika Serikat.

Menurut JK, konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat merupakan persoalan geopolitik yang sangat kompleks. Faktor utama kesulitan perundingan damai adalah ketidakseimbangan kekuatan antarnegara, khususnya dominasi Amerika Serikat.

Advertisement

"Ya niat, rencana itu baik saja. Tapi ini situasi yang jauh lebih besar masalahnya. Ya Palestina dengan Israel saja tidak bisa, sulit didamaikan. Karena dunia ini sangat ditentukan oleh sifat Amerika," ujar JK kepada wartawan, Minggu, 1 Maret 2026.

JK menambahkan, Indonesia sendiri telah membuat perjanjian dengan Amerika yang dianggapnya tidak seimbang.

"Dan sayangnya Indonesia telah mengadakan perjanjian tidak seimbang yang sangat merugikan Indonesia. Itu saja kita tidak setara Amerika. Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara dalam keadaan ini dalam hal perundingan seperti itu," tegasnya.

Meskipun Indonesia berada jauh dari pusat konflik, JK menekankan dampak dari situasi ini tetap akan terasa, terutama pada sektor energi dan perdagangan. Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu dampak yang paling cepat muncul bila konflik berkepanjangan.

"Ya tentu karena ini di Timur Tengah, kita kepulauan jauh. Walaupun kita juga sangat prihatin bahwa bukan hanya Timur Tengah, negara Islam ini memang lagi kacau pada tahun ini," ujar JK.

Negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, dan Kuwait merupakan pemasok energi penting bagi dunia. Gangguan jalur distribusi energi dari kawasan ini dapat memengaruhi ketersediaan bahan bakar di dalam negeri. JK memperkirakan cadangan energi nasional hanya cukup untuk sekitar tiga minggu. Jika konflik meluas, potensi kelangkaan bahan bakar dan kenaikan harga sangat mungkin terjadi.

Diketahui, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026. Laporan CNN pada Minggu, 1 Maret 2026, mengonfirmasi kabar ini, sebelumnya sempat dibantah media pemerintah Iran.

"Ayatollah Ali Khamenei telah terbunuh setelah serangan besar-besaran AS-Israel terhadap negara tersebut," tulis CNN.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah menyatakan bahwa Ali Khamenei tewas dalam serangan mendadak di Teheran. Trump menyebut serangan AS dan Israel kali ini jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

Advertisement

Setelah pengumuman kematian Ali Khamenei, Trump bahkan meminta warga sipil Iran untuk merebut posisi pemerintahan.

Anisha Aprilia/Disway

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID