Konflik Timur Tengah Memanas! JK Sentil Prabowo: Urus Keadilan Dalam Negeri Dulu, 'Kita Tidak Setara AS'

news.fin.co.id - 02/03/2026, 19:55 WIB

Konflik Timur Tengah Memanas! JK Sentil Prabowo: Urus Keadilan Dalam Negeri Dulu, 'Kita Tidak Setara AS'

Ketua PMI Jusuf Kalla

Ketegangan global memuncak! Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan militer ke Iran pada Sabtu (28/2/2026), mengirimkan gelombang kekhawatiran hingga ke kancah internasional, termasuk Indonesia.

Peristiwa ini bukan hanya sekadar berita internasional, tapi membawa dampak langsung yang patut kita cermati. Apa saja yang perlu kamu ketahui dari kabar mengejutkan ini?

Ringkasan :

Serangan Militer Picu Kontroversi di Tengah Diplomasi

Advertisement

Amerika Serikat dan Israel dikabarkan melancarkan serangan militer ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Insiden ini bukan hanya mengguncang kawasan Timur Tengah, tetapi juga memantik keprihatinan dunia internasional. Di Indonesia, suara kritis datang dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla dengan tegas menyebut operasi militer tersebut sebagai peristiwa yang sangat memprihatinkan. Terlebih lagi, kabar beredar bahwa serangan ini menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Situasi menjadi semakin runyam karena serangan ini terjadi di tengah proses perundingan nuklir yang masih bergulir antara Iran dan Amerika Serikat, tanpa adanya kesepakatan yang tercapai.

Dalam keterangannya di Jakarta Selatan, Jusuf Kalla tak ragu mempertanyakan etika di balik langkah militer yang diambil. Menurutnya, menyerang pihak lawan ketika meja diplomasi masih terbuka lebar merupakan tindakan yang sulit diterima secara moral. Ia berpendapat, jika dialog masih berlangsung, maka ruang negosiasi semestinya dihormati sepenuhnya. Tindakan serangan justru berpotensi memperbesar jurang ketidakpercayaan dan memperpanjang mata rantai konflik.

Pernyataan tegas dari Jusuf Kalla ini sekaligus menjadi kritik tajam terhadap pola penyelesaian konflik global yang masih saja mengedepankan kekuatan militer ketimbang jalur diplomasi yang damai.

Pola Lama Politik Global yang Kian Menghantui

Jusuf Kalla tak ketinggalan menyoroti kecenderungan Amerika Serikat dalam menyikapi negara-negara yang dianggap berseberangan dengan kepentingannya. Ia secara gamblang menyinggung berbagai konflik yang pernah terjadi, mulai dari Afghanistan, Irak, hingga Suriah. Kasus-kasus tersebut menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan militer kerap kali menjadi opsi utama. Menurut pandangannya, pola seperti ini justru berpotensi memperdalam ketegangan yang ada dan menciptakan ketidakstabilan dalam jangka panjang.

Serangan terbaru ke Iran ini pun dinilai sebagai babak baru dari siklus konflik global yang seolah tak pernah menemukan titik damai. Pola lama yang mengutamakan kekuatan militer ini seolah terus berulang dan memperparah keadaan.

Iran Diadang Kompleksitas Internal dan Ancaman Eksternal

Di sisi lain, Jusuf Kalla mengakui bahwa Iran sendiri tengah menghadapi dinamika internal yang tidak sederhana. Ia mengidentifikasi tiga kekuatan besar yang bersaing di dalam negeri Iran. Pertama, pemerintah yang mati-matian mempertahankan sistem Republik Islam sejak Revolusi 1979. Kedua, kelompok reformis yang gigih menuntut perubahan politik dan kebebasan sipil bagi masyarakat. Ketiga, kelompok yang justru menginginkan kembalinya era monarki Pahlavi.

Advertisement

Dengan kondisi internal yang belum sepenuhnya stabil ini, serangan eksternal yang terjadi berpotensi besar memperkeruh suasana dan memicu gejolak yang lebih luas di dalam negeri. Namun, terlepas dari kompleksitas dinamika politik tersebut, Jusuf Kalla menegaskan kembali bahwa tewasnya seorang pemimpin tertinggi tetap merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat patut disesalkan oleh semua pihak.

Dampak Domino: Harga Minyak Melonjak, Ekonomi Indonesia Goyah?

Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Redaktur Pelaksana FIN.CO.ID