Internasional . 02/03/2026, 09:44 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Peristiwa tersebut menjadi titik balik konflik. Bagi Teheran, serangan itu dianggap sebagai tindakan agresi langsung terhadap simbol tertinggi negara dan ideologi Republik Islam.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan Al Jazeera menyebut pembunuhan Khamenei sebagai tindakan “berbahaya dan tanpa preseden.”
Dalam pernyataannya yang dikutip media pemerintah Iran, Press TV, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan mengenal batas dalam membela diri.
“Angkatan bersenjata kami mengambil tindakan pembalasan terhadap target musuh secara independen. Kami mampu membela diri tanpa bantuan pihak luar,” ujarnya.
Iran mengklaim tidak berniat menjadikan negara-negara tetangga sebagai target. Namun, laporan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa serangan meluas hingga ke wilayah sipil.
Inilah yang memicu kecaman keras dari GCC. Mereka menyatakan telah memberikan jaminan diplomatik bahwa wilayahnya tidak akan digunakan oleh Amerika Serikat untuk menyerang Iran. Meski demikian, serangan tetap terjadi.
Kontradiksi antara klaim resmi Teheran dan fakta di lapangan membuat situasi semakin rumit dan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.
Kawasan Teluk merupakan pusat produksi dan distribusi energi dunia. Gangguan keamanan di wilayah ini otomatis berdampak pada harga minyak global dan stabilitas rantai pasok energi.
Selain itu, jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz menjadi titik rawan. Setiap eskalasi militer di sekitar kawasan tersebut berpotensi mengganggu arus perdagangan internasional.
Analis memperkirakan bahwa ketegangan berkepanjangan dapat mendorong lonjakan harga minyak mentah, meningkatkan inflasi global, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.
GCC menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil langkah tegas guna mencegah kehancuran total di kawasan yang menjadi pilar ekonomi dunia tersebut.
Menurut pernyataan resmi, komunitas internasional tidak boleh tinggal diam melihat pelanggaran kedaulatan dan ancaman terhadap stabilitas global.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media