fin.co.id - Harga tiket pesawat untuk rute Asia menuju Eropa dilaporkan melonjak drastis dalam beberapa hari terakhir. Lonjakan ini terjadi setelah sejumlah pusat penerbangan utama di kawasan Timur Tengah ditutup akibat eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Situasi tersebut menyebabkan kapasitas penerbangan internasional menipis. Tiket untuk berbagai rute populer bahkan dilaporkan habis terjual selama berhari-hari karena maskapai harus mengurangi jadwal penerbangan serta mengubah jalur udara.
Selain itu, sejumlah bandara yang biasanya menjadi pusat transit utama di Timur Tengah terpaksa ditutup. Hal ini membuat maskapai harus mencari rute alternatif yang lebih jauh dan mahal.
Akibatnya, harga tiket pesawat pun melonjak tajam.
Bandara Dubai Ditutup, Penerbangan Global Terganggu
Salah satu dampak paling signifikan dari konflik ini adalah penutupan Bandara Internasional Dubai di Dubai.
Bandara tersebut dikenal sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia dengan kapasitas normal lebih dari 1.000 penerbangan setiap hari.
Namun sejak konflik memanas, bandara tersebut masih ditutup hingga hari kelima pada Rabu (4/3/2026).
Penutupan ini berdampak besar terhadap penerbangan internasional karena Dubai selama ini menjadi pusat transit utama bagi perjalanan dari Asia menuju Eropa maupun Australia.
Akibatnya, kapasitas penerbangan di jalur-jalur sibuk seperti Australia–Eropa langsung terpangkas secara signifikan.
Maskapai Teluk Paling Terdampak
Maskapai yang paling merasakan dampak dari situasi ini adalah maskapai berbasis Timur Tengah seperti Emirates dan Qatar Airways.
Kedua maskapai tersebut selama ini memegang pangsa pasar besar pada rute Asia–Eropa dengan sistem transit di wilayah Teluk.
Ketika bandara dan jalur udara di kawasan itu ditutup, jaringan penerbangan mereka ikut lumpuh.