fin.co.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat setelah konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari kelima.
Di tengah situasi yang semakin memanas, pemerintah Inggris menegaskan tidak akan ikut terlibat dalam operasi militer tersebut.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan bahwa negaranya memilih jalur diplomasi dan negosiasi untuk menyelesaikan konflik terkait program nuklir Iran.
Inggris menilai perang terbuka hanya akan memperburuk stabilitas kawasan dan berpotensi menyeret negara-negara Teluk Arab ke dalam konflik yang lebih luas.
Inggris Tegaskan Tidak Akan Ikut Serangan ke Iran
Dalam konferensi pers di Downing Street, London, Kamis (5/3/2026), Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak akan bergabung dalam operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Menurutnya, solusi terbaik dalam menyelesaikan ketegangan yang berkaitan dengan program nuklir Iran adalah melalui perundingan diplomatik.
“Solusi terbaik untuk masalah ini adalah penyelesaian melalui negosiasi dengan Iran, di mana mereka melepaskan ambisi nuklir mereka,” ujar Starmer dalam konferensi pers tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Inggris akan tetap fokus pada upaya internasional untuk meredakan eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Inggris Pilih Jalur Diplomasi
Pemerintah Inggris menilai bahwa perang terbuka berpotensi memperluas konflik hingga ke wilayah negara-negara Teluk Arab. Oleh karena itu, London lebih memilih mendorong proses diplomasi agar ketegangan dapat diselesaikan tanpa pertumpahan darah yang lebih besar.
“Karena itu saya mengambil keputusan bahwa Inggris tidak akan bergabung dengan serangan terhadap Iran oleh Amerika Serikat dan Israel,” kata Starmer.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut diambil demi kepentingan nasional Inggris serta menjaga stabilitas global.
Tekanan dari AS Tidak Mengubah Keputusan Inggris
Dalam pernyataannya, Starmer mengakui bahwa ada tekanan dari Washington agar Inggris ikut serta dalam operasi militer tersebut.
Namun, ia memastikan bahwa pemerintah Inggris tetap berpegang pada prinsip hukum internasional dan diplomasi.
Inggris memilih untuk tetap mengedepankan upaya politik dan dialog dalam menangani konflik yang melibatkan Iran.
Inggris Kerahkan Jet Tempur ke Qatar
Meski menolak ikut menyerang Iran, Inggris tetap mengambil langkah untuk memperkuat pertahanan di kawasan Teluk.
Beberapa waktu lalu, pemerintah Inggris mengumumkan pengerahan empat jet tempur Typhoon ke Qatar.
Menurut Starmer, pengerahan tersebut hanya bersifat defensif dan bertujuan melindungi kepentingan serta aset Inggris di kawasan tersebut.
“Langkah tersebut untuk memperkuat pertahanan di Qatar dan di beberapa wilayah,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran militer Inggris di kawasan tidak dimaksudkan untuk melakukan serangan terhadap Iran.
Negara Eropa Lain Juga Menolak Ikut Perang
Inggris bukan satu-satunya negara Eropa yang menolak ajakan Amerika Serikat untuk terlibat dalam konflik militer melawan Iran.
Sebelumnya, pemerintah Jerman melalui Menteri Pertahanan Boris Pistorius juga memastikan militernya tidak akan ikut dalam operasi serangan terhadap Iran.
Selain itu, Perdana Menteri Pedro Sánchez dari Spanyol juga menolak permintaan Presiden Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer di Rota dan Morón de la Frontera sebagai basis operasi militer melawan Iran.
Penolakan dari beberapa negara Eropa tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara sekutu Barat terkait cara menangani konflik dengan Iran.
Konflik Iran vs AS–Israel Memasuki Hari Kelima
Sementara itu, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel masih terus berlangsung hingga Kamis (5/3/2026).
Militer AS dan Israel dilaporkan masih memperluas serangan mereka ke sejumlah wilayah di Iran dengan menggunakan rudal, misil, serta serangan udara dari pesawat tempur.
Serangan tersebut menargetkan berbagai fasilitas strategis yang dianggap terkait dengan program militer Iran.
Iran Melakukan Serangan Balasan
Di sisi lain, Iran tidak tinggal diam. Pemerintah di Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan drone tempur, misil, dan rudal berdaya ledak besar.
Serangan tersebut tidak hanya menargetkan wilayah yang dikuasai Israel di Palestina, tetapi juga fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di beberapa negara Teluk.
Beberapa negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS antara lain Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, serta Yordania.
Serangan balasan tersebut semakin meningkatkan risiko meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran Konflik Regional
Para analis geopolitik memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi berkembang menjadi perang regional jika tidak segera dihentikan.
Keterlibatan berbagai negara besar serta keberadaan pangkalan militer asing di kawasan membuat situasi menjadi sangat sensitif.
Karena itu, banyak negara termasuk Inggris mendorong agar konflik segera dihentikan dan digantikan dengan jalur diplomasi.
Diplomasi Dinilai Jalan Terbaik
Pemerintah Inggris meyakini bahwa diplomasi tetap menjadi jalan terbaik untuk menghindari perang yang lebih luas.
London berharap semua pihak yang terlibat konflik dapat kembali ke meja perundingan untuk mencari solusi damai terkait program nuklir Iran.
Jika konflik terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara Timur Tengah, tetapi juga dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi dan politik global.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, keputusan Inggris untuk tidak ikut berperang menunjukkan adanya upaya sebagian negara Barat untuk menahan eskalasi konflik yang lebih besar di kawasan. (*)