fin.co.id - Pemerintah membuka kemungkinan melakukan penyesuaian anggaran pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) apabila tekanan fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia membuat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 melewati batas aman.
Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyebut pemerintah telah melakukan berbagai simulasi risiko terkait perkembangan ekonomi global, khususnya kenaikan harga minyak mentah.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program sosial besar pemerintah pada tahun ini dengan total anggaran mencapai Rp335 triliun. Program tersebut ditujukan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak sekolah, ibu hamil, dan lansia.
Namun di tengah ketidakpastian ekonomi global, pemerintah mulai menyiapkan skenario antisipasi untuk menjaga stabilitas fiskal negara.
Harga Minyak Dunia Berpotensi Tekan Defisit APBN
Menurut Purbaya, pemerintah telah melakukan stress test terhadap kemungkinan lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Salah satu skenario yang disimulasikan adalah jika harga minyak dunia berada di level US$92 per barel rata-rata sepanjang tahun.
Jika kondisi tersebut terjadi, maka defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Padahal, pemerintah selama ini berupaya menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah batas aman 3 persen PDB.
“Kita sudah exercise kalau harga minyak US$92 selama setahun rata-rata, maka defisitnya jadi 3,6 persen lebih tadi,” kata Purbaya dalam acara buka puasa bersama di kantor Kementerian Keuangan Republik Indonesia di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Lonjakan harga minyak biasanya berdampak langsung terhadap beban anggaran negara, terutama pada sektor subsidi energi dan berbagai pengeluaran pemerintah lainnya.
Program Makan Bergizi Gratis Bisa Dihemat
Untuk mengantisipasi pelebaran defisit anggaran, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah efisiensi belanja negara.