Fin.co.id - Menjelang bulan Ramadan dan Idulfitri, satu pemandangan yang hampir selalu muncul di berbagai kota di Indonesia adalah jasa penukaran uang baru di pinggir jalan.
Lapak-lapak kecil yang menawarkan pecahan uang baru biasanya ramai diserbu masyarakat yang ingin menyiapkan uang untuk tradisi berbagi saat Lebaran.
Namun di balik kemudahan tersebut, Bank Indonesia (BI) mengingatkan adanya sejumlah risiko serius yang bisa merugikan masyarakat.
Mulai dari kemungkinan menerima uang palsu hingga jumlah uang yang tidak sesuai dengan nominal yang ditukarkan.
Karena itu, bank sentral meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati dan hanya melakukan penukaran uang melalui layanan resmi.
Fenomena penukaran uang secara tidak resmi memang semakin marak setiap tahun, terutama saat Ramadan.
Meski terlihat praktis, transaksi seperti ini tidak memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat.
Bank Indonesia menegaskan penukaran uang di luar jalur resmi berpotensi menimbulkan berbagai masalah, seperti:
- Uang yang diterima tidak dijamin keasliannya
- Nominal uang tidak sesuai dengan jumlah yang dibayar
- Potensi praktik penipuan
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan masyarakat sebaiknya menghindari praktik tersebut.
“Bank Indonesia terus berupaya memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, termasuk memperluas fasilitas penukaran uang tunai melalui kas keliling di berbagai lokasi,” ujar Ramdan.
Langkah ini dilakukan agar masyarakat memiliki alternatif penukaran uang yang aman dan terpercaya.
Program SERAMBI 2026
Untuk memenuhi kebutuhan uang tunai selama Ramadan dan Idulfitri, Bank Indonesia bersama perbankan nasional meluncurkan program khusus bernama:
Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026.