Ekonomi . 07/03/2026, 11:04 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Laporan terbaru dari Institute of International Finance melalui publikasi Global Debt Monitor kuartal IV-2025 mengungkap fakta menarik sekaligus mengkhawatirkan tentang kondisi ekonomi dunia.
Sejumlah negara besar tercatat memiliki total utang yang melampaui 300 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut menunjukkan bahwa akumulasi utang dari berbagai sektor—mulai dari rumah tangga, perusahaan, hingga pemerintah—sudah setara dengan nilai produksi ekonomi negara tersebut selama lebih dari tiga tahun.
Rasio utang terhadap PDB menjadi indikator penting dalam menilai ketahanan finansial suatu negara. Semakin tinggi rasio tersebut, semakin besar pula potensi risiko ekonomi jika terjadi gejolak global.
Berdasarkan laporan tersebut, wilayah administratif khusus Hong Kong menempati posisi pertama sebagai negara atau wilayah dengan rasio utang tertinggi di dunia.
Total utang Hong Kong tercatat mencapai 380 persen dari PDB.
Menariknya, beban utang ini tidak sepenuhnya berasal dari sektor pemerintah atau rumah tangga. Lonjakan terbesar justru datang dari sektor korporasi.
Utang perusahaan di Hong Kong mencapai 227 persen dari PDB, angka yang sangat besar dibandingkan negara lain.
Kondisi ini banyak dipicu oleh dominasi sektor properti yang menjadi tulang punggung ekonomi Hong Kong. Industri properti dan sektor turunannya diketahui menyumbang sekitar 25 persen dari total PDB wilayah tersebut.
Karena sektor ini sangat bergantung pada pembiayaan utang atau leverage, maka rasio utang korporasi pun meningkat tajam.
Di posisi kedua terdapat Jepang dengan total rasio utang mencapai 372 persen dari PDB.
Namun berbeda dengan Hong Kong, sumber utama masalah keuangan Jepang berasal dari sektor publik.
Utang pemerintah Jepang dilaporkan hampir menyentuh 200 persen dari PDB, menjadikannya salah satu yang tertinggi di dunia.
Situasi ini sebenarnya berakar dari masa stagnasi ekonomi yang dikenal sebagai “Lost Decades” setelah runtuhnya gelembung harga aset pada tahun 1991.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media