Ekonomi . 07/03/2026, 11:04 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Untuk mengatasi perlambatan ekonomi, pemerintah Jepang selama bertahun-tahun menerapkan kebijakan stimulus besar-besaran, termasuk program **Bank of Japan yang membeli obligasi pemerintah dalam skala besar melalui kebijakan pelonggaran moneter atau quantitative easing.
Saat ini, Bank of Japan bahkan menguasai sekitar setengah dari total utang nasional Jepang, sementara sisanya dipegang oleh lembaga keuangan domestik.
Fenomena tingginya utang negara bukan hanya terjadi di Asia.
Laporan IIF juga menyoroti bahwa banyak negara maju di dunia mengalami peningkatan utang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Beberapa faktor utama yang memicu lonjakan utang tersebut antara lain:
Stimulus ekonomi besar-besaran selama pandemi COVID-19
Peningkatan belanja pertahanan dan industri
Kebijakan fiskal untuk menahan dampak krisis global
Kenaikan biaya pinjaman akibat suku bunga tinggi
Akibatnya, banyak negara masih menghadapi defisit fiskal yang cukup besar, sementara sektor rumah tangga dan perusahaan juga terbebani oleh biaya utang yang semakin mahal.
Ketidakpastian ekonomi global juga membuat banyak negara sulit mengurangi rasio utang mereka dalam waktu singkat.
Berikut daftar negara dengan rasio utang terbesar berdasarkan persentase terhadap PDB menurut laporan IIF:
Total utang: 380 persen dari PDB
Rumah tangga: 86 persen
Korporasi: 227 persen
Pemerintah: 67 persen
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media