Akademisi Dorong Mahasiswa Perkuat Kepekaan Sosial dan Jiwa Kebangsaan

news.fin.co.id - 08/03/2026, 08:29 WIB

Akademisi Dorong Mahasiswa Perkuat Kepekaan Sosial dan Jiwa Kebangsaan

Akademisi dari Universitas Islam 45, Dr. Rasminto, Foto: Tangkapan layar

fin.co.id – Akademisi Universitas Islam 45, Dr Rasminto mengingatkan, mahasiswa agar tidak terjebak menjadi kelompok intelektual yang jauh dari realitas sosial masyarakat. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial sekaligus mempersiapkan diri sebagai calon pemimpin bangsa yang berkarakter dan berintegritas.

Pandangan tersebut disampaikannya dalam materi berjudul "Peran Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam dalam Membangun Kesadaran Sosial dan Kepemimpinan Bangsa" pada webinar kuliah umum yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa STAI Nurul Iman Bogor, Sabtu, 7 Maret 2026.

“Tantangan zaman hari ini tidak memberi ruang bagi mahasiswa untuk bersikap netral terhadap masalah-masalah kemasyarakatan. Ketika tekanan global ikut berdampak pada kedaulatan nasional, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pemburu gelar dan prestasi akademik. Mereka perlu hadir sebagai kelompok yang mampu membaca situasi, memahami kebutuhan masyarakat, dan menjaga nalar kebangsaan di tengah perubahan yang cepat," kata Rasminto.

Ia menegaskan, mahasiswa sejak lama memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan, pengontrol sosial, sekaligus cadangan kepemimpinan bangsa. Oleh karena itu, mahasiswa tidak seharusnya menjauh dari berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Advertisement

“Kampus, dengan demikian, harus dipahami bukan hanya sebagai ruang transfer ilmu, tetapi juga sebagai tempat pembentukan watak, keberanian moral, dan kesadaran untuk mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa," ujarnya.

Rasminto menilai tanggung jawab tersebut menjadi semakin penting bagi mahasiswa di perguruan tinggi agama Islam. Menurutnya, mereka tidak hanya memikul mandat intelektual, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual dalam membangun masyarakat yang berkeadaban.

“Ilmu pengetahuan, dalam pandangan ini, tidak boleh berhenti pada penguasaan teori, melainkan harus menjelma menjadi kepedulian sosial, keteguhan karakter, dan kesediaan untuk berbuat bagi kepentingan yang lebih besar daripada diri sendiri," tegasnya.

Ia menambahkan, generasi mahasiswa yang dibutuhkan bangsa saat ini adalah individu yang terus belajar sepanjang hayat, memiliki integritas, wawasan luas, serta rasa cinta tanah air yang kuat.

“Rumusan itu menegaskan bahwa kepemimpinan mahasiswa tidak lahir dari popularitas semata, melainkan dari perpaduan antara pengetahuan, karakter, dan komitmen pada kepentingan bangsa. Dalam konteks itu, pendidikan tinggi perlu lebih sungguh-sungguh menyiapkan mahasiswa sebagai calon pemimpin yang matang secara intelektual dan kokoh secara etis," jelasnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan adaptif dalam membentuk karakter mahasiswa. Nilai-nilai seperti loyalitas, tanggung jawab, dan rasa hormat, menurutnya, perlu dipadukan dengan wawasan lintas disiplin serta keberanian untuk bertindak nyata.

Menurut Rasminto, tantangan generasi muda saat ini juga diperumit oleh derasnya arus disinformasi di ruang digital. Ia menyinggung data dari Kementerian Komunikasi dan Digital yang mencatat adanya 1.923 konten hoaks, berita bohong, dan informasi palsu sepanjang 2024, dengan isu politik dan pemerintahan sebagai salah satu kategori yang menonjol.

“Peringatan itu menjadi relevan karena generasi muda juga hidup di tengah arus disinformasi yang kian deras. Apalagi situasi di era post-truth politics dan perang informasi yang membuat emosi kerap lebih dominan daripada fakta, sementara propaganda digital makin mudah membelokkan opini publik. Kita lihat saja data Komdigi yang mengidentifikasi 1.923 konten hoaks, berita bohong, dan informasi palsu sepanjang 2024, dengan kategori politik dan pemerintahan termasuk yang menonjol. Kondisi ini membuat mahasiswa dituntut menjaga akal sehat publik, tidak mudah terseret arus, dan tetap berpijak pada kepentingan bangsa," tuturnya.

Di akhir paparannya, Rasminto berharap mahasiswa tidak kehilangan kedekatan emosional dengan bangsanya sendiri, terutama di tengah momentum bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada 2045.

Advertisement

“Mahasiswa perlu tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli, tidak hanya kritis, tetapi juga berkarakter, tidak hanya vokal, tetapi juga siap memimpin dengan jiwa kebangsaan yang kuat. Bonus demografi Indonesia yang akan kita dapatkan pada 2045, akan menjadi peluang hanya jika generasi mudanya memiliki kualitas kepemimpinan dan kesadaran sosial yang memadai," pungkasnya.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID