Internasional . 09/03/2026, 09:05 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Nama Mojtaba Khamenei mendadak menjadi pusat perhatian dunia setelah Majelis Ahli Iran mengumumkan penunjukannya sebagai Pemimpin Tertinggi baru, Senin 9 Maret 2026. Sosok yang selama puluhan tahun bergerak dalam bayang-bayang ayahnya, mendiang Ayatollah Ali Khamenei, kini resmi memegang tongkat estafet kepemimpinan teokrasi Iran.
Penunjukan ini terjadi di tengah situasi kritis, saat Iran sedang terlibat dalam konfrontasi militer terbuka dengan Israel dan sekutunya.
Lahir di Mashhad pada tahun 1969, Mojtaba tumbuh besar di tengah gejolak revolusi. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan tekanan politik ketika ayahnya menjadi target polisi rahasia Shah Iran, SAVAK. Pengalaman masa kecil yang keras tersebut tampaknya membentuk karakter Mojtaba menjadi pribadi yang sangat tertutup namun taktis.
Setelah Revolusi Islam 1979, ia turut terjun ke medan tempur dalam Perang Iran-Irak bersama Batalyon Habib ibn Mazahir, sebuah unit elit di bawah Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menjadi kawah candradimuka bagi banyak petinggi intelijen Iran saat ini.
Meskipun tidak pernah menduduki jabatan publik yang dipilih melalui pemilu, pengaruh Mojtaba di koridor kekuasaan Teheran sangatlah masif. Dokumen diplomatik Amerika Serikat yang bocor melalui WikiLeaks pada akhir 2000-an bahkan menjulukinya sebagai "The Power Behind the Robes". Ia berperan sebagai penjaga gerbang utama, penasihat kepercayaan, sekaligus perantara kekuasaan bagi ayahnya selama puluhan tahun.
Kekuatan Mojtaba tidak hanya berasal dari garis keturunan, tetapi juga dari aliansi strategis yang ia bangun di dalam internal rezim. Ia memiliki kedekatan khusus dengan komandan Pasukan Quds dan Basij, dua sayap paling berpengaruh dalam Garda Revolusi.
Kedekatan ini memberinya basis dukungan militer yang solid, yang terbukti sangat krusial dalam memuluskan langkahnya menuju kursi tertinggi kepemimpinan Iran setelah kematian ayahnya dalam serangan udara Israel sepekan lalu.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, Mojtaba Khamenei kini mewarisi otoritas yang nyaris tanpa batas. Ia memegang kendali atas persenjataan balistik Iran dan jaringan militan "Poros Perlawanan" di seluruh Timur Tengah. Namun, tanggung jawab paling berat yang kini berada di pundaknya adalah keputusan mengenai program nuklir Iran. Dengan cadangan uranium yang diperkaya tinggi, Mojtaba memiliki wewenang akhir untuk menentukan apakah Iran akan secara resmi bertransformasi menjadi negara berkekuatan nuklir.
Penunjukannya juga membawa konsekuensi ekonomi yang besar. Sebagai penguasa tertinggi, ia kini mengawasi aset bisnis senilai miliaran dolar yang tersebar di berbagai yayasan atau bonyad. Kekayaan ini, yang berasal dari industri negara dan aset-aset peninggalan era Shah, menjadi mesin penggerak bagi operasional Garda Revolusi dan kebijakan luar negeri Iran yang ekspansif di kawasan Teluk.
Langkah suksesi ini tidak lepas dari kritik tajam, terutama dari dunia Barat. Kritikus menilai penunjukan Mojtaba sebagai upaya mengubah sistem teokrasi menjadi semacam monarki absolut baru. Tantangan terbesar bagi Mojtaba adalah membuktikan legitimasinya di mata rakyat Iran dan komunitas internasional, terutama karena ia tidak memiliki latar belakang pendidikan teologi formal yang setinggi para pendahulunya.
Tekanan internasional semakin nyata setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pernyataan keras mengenai kepemimpinan baru ini. Trump menyebut penunjukan Mojtaba tidak dapat diterima dan menuntut adanya sosok pemimpin yang lebih moderat untuk membawa perdamaian di Iran. Dengan sanksi AS yang sudah menjeratnya sejak 2019, Mojtaba kini harus menavigasi negara melewati badai sanksi ekonomi dan ancaman militer yang terus meningkat di perbatasan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media