Internasional . 09/03/2026, 09:52 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, melontarkan kritik pedas sekaligus ejekan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait salah perhitungan Washington dalam konflik yang tengah berlangsung. Qalibaf menegaskan bahwa agresi militer terhadap Iran justru menjadi bumerang yang menghancurkan kepentingan ekonomi global, terutama di sektor energi.
Melalui pesan resminya, Qalibaf menyoroti inkonsistensi pernyataan Trump mengenai gejolak harga minyak dunia. Ia menilai Washington gagal memprediksi dampak nyata dari perang ini terhadap pasar internasional. Menurutnya, berlanjutnya konflik tidak hanya merugikan Iran, tetapi juga membakar kepentingan Amerika Serikat, negara-negara kawasan, hingga stabilitas ekonomi dunia secara keseluruhan.
Qalibaf secara khusus menyindir perubahan narasi Donald Trump yang sebelumnya meremehkan kenaikan harga minyak. Saat ini, ketika harga minyak mentah dunia melambung tinggi melampaui angka 100 per barel, Trump justru berdalih bahwa kondisi tersebut akan segera terkoreksi. Qalibaf menilai sikap ini menunjukkan ketidaksiapan Amerika Serikat dalam menghadapi realitas pasar energi saat ini.
Ia memperingatkan bahwa jika perang terus berlanjut dengan pola saat ini, aktivitas produksi dan penjualan minyak global akan terganggu secara total.
"Jika perang berlanjut seperti ini, tidak akan ada jalan untuk menjual minyak maupun kemampuan untuk memproduksinya," tegas Qalibaf.
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Iran siap menggunakan posisi strategisnya dalam rantai pasok energi sebagai alat tawar politik.
Konflik yang pecah sejak akhir Februari ini telah mengakibatkan kerusakan signifikan pada infrastruktur sipil dan militer di Iran. Serangan udara besar-besaran yang menyasar berbagai lokasi telah memicu balasan serupa dari angkatan bersenjata Iran. Gelombang rudal dan drone Iran kini mulai mengincar posisi-posisi strategis Amerika Serikat dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan regional lainnya.
Qalibaf menegaskan bahwa kepentingan internasional saat ini sedang dipertaruhkan demi ambisi politik tertentu yang ia sebut sebagai ilusi pihak lawan. Eskalasi ini telah menghambat jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi utama distribusi minyak dunia. Akibatnya, kekhawatiran akan kelangkaan pasokan energi semakin nyata dan membuat negara-negara Barat mulai menderita akibat lonjakan harga bahan bakar.
Kenaikan harga minyak yang tidak terkendali ini menjadi ancaman serius bagi pemulihan ekonomi global. Iran menunjukkan bahwa menekan mereka secara militer memiliki konsekuensi harga tinggi yang harus dibayar oleh konsumen di seluruh dunia.
Sejumlah pengamat energi mencatat bahwa ketidakpastian ini akan terus berlanjut selama diplomasi internasional tidak mampu meredakan ketegangan di kawasan Teluk.
Pernyataan keras Qalibaf ini sekaligus menjadi tameng politik bagi kepemimpinan baru di Teheran pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.
Dengan menunjukkan kekuatan "senjata minyak", Iran berusaha mengirimkan pesan jelas ke Washington bahwa setiap agresi militer akan berbalas dengan guncangan ekonomi yang menyakitkan bagi semua pihak.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media