Total 1.022 Porsi MBG Dikembalikan
Langkah penolakan itu tidak dilakukan secara parsial. Sekolah langsung mengembalikan seluruh 1.022 porsi MBG kepada pihak penyedia.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa sekolah tidak ingin mengambil risiko sedikit pun terkait kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.
Selain itu, tindakan ini juga menegaskan bahwa distribusi program makan bergizi harus mengikuti standar yang jelas.
Program MBG sendiri dirancang untuk membantu memastikan kebutuhan nutrisi pelajar terpenuhi. Karena itu, kualitas dan keamanan makanan menjadi faktor utama yang tidak bisa ditawar.
Penjelasan dari Pihak Penyedia MBG
Menanggapi kejadian tersebut, pihak penyedia program MBG menyampaikan permintaan maaf kepada pihak sekolah.
Mereka mengakui adanya masalah dalam proses distribusi makanan pada paket yang dikirim.
Penyedia menjelaskan bahwa penggunaan lele marinasi mentah sebenarnya memiliki tujuan tertentu. Metode tersebut disebut dilakukan untuk menjaga kandungan gizi pada ikan.
Meski begitu, mereka juga menyadari bahwa cara distribusi seperti ini menimbulkan kekhawatiran bagi pihak sekolah.
Karena itu, pihak penyedia memastikan akan melakukan evaluasi terhadap proses distribusi MBG agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Kasus di SMA Negeri 2 Pamekasan menjadi pengingat bahwa implementasi program makanan bergizi membutuhkan pengawasan ketat di lapangan.
Sekolah, penyedia makanan, dan pengelola program harus bekerja sama memastikan setiap menu yang didistribusikan memenuhi standar keamanan pangan.