fin.co.id – Pemandangan deretan penyedia jasa penukaran uang pecahan kecil kini mulai menghiasi berbagai sudut jalanan di Jakarta dan wilayah penyangganya. Fenomena tahunan ini menandai semakin dekatnya perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, di mana kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai baru untuk tradisi salam tempel atau THR meningkat tajam.
Di kawasan Asemka, Jakarta Barat, belasan penyedia jasa penukaran uang tampak berjejer di sepanjang trotoar dekat Stasiun Jakarta Kota. Setidaknya terpantau ada 11 lapak yang beroperasi di lokasi itu.
Mereka menawarkan berbagai pecahan uang baru, mulai dari Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, hingga Rp20.000 kepada para pengguna jalan yang melintas.
Kondisi serupa terlihat di wilayah Cibinong, Kabupaten Bogor. Para penyedia jasa memanfaatkan area strategis seperti sekitar Situ Cibinong dan flyover Cibinong untuk menjajakan uang pecahan.
Sebagian besar dari mereka menyusun uang tersebut dalam paket-paket tertentu guna memudahkan transaksi bagi warga yang ingin menyiapkan angpau lebaran untuk sanak saudara.
Para pelapak ini umumnya hanya bermodalkan bangku dan payung. Namun, di balik operasional yang terlihat sederhana, terdapat sistem setor yang terorganisir.
Sebagian besar penjual mengambil modal uang dari pengepul atau "bos" tertentu, kemudian mengembalikan modal beserta bagi hasil keuntungan setelah uang tersebut habis ditukarkan oleh masyarakat.
Keberadaan jasa penukaran uang di pinggir jalan ini memang menawarkan kepraktisan bagi warga yang enggan mengantre di bank atau kehabisan kuota penukaran resmi. Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap risiko uang palsu maupun selisih biaya penukaran yang cukup tinggi di pasar gelap ini.
Fenomena ini diprediksi akan terus mencapai puncaknya hingga H-1 Lebaran seiring dengan meningkatnya arus mudik dan aktivitas ekonomi masyarakat.