Harga Minyak Dunia Meroket, Trump Putar Otak Segera Redam Perang Iran Demi Ekonomi AS

news.fin.co.id - 10/03/2026, 08:13 WIB

Harga Minyak Dunia Meroket, Trump Putar Otak Segera Redam Perang Iran Demi Ekonomi AS

Harga minyak dunia meroket paksa Trump putar otak redam perang Iran demi selamatkan ekonomi AS.Foto:IG

fin.co.id - Lonjakan harga minyak mentah dunia yang melambung tinggi kini menjadi beban berat bagi ekonomi global, termasuk Amerika Serikat. Kondisi ini memaksa Presiden Donald Trump untuk memutar otak guna mencari jalan keluar tercepat dalam meredam ketegangan dengan Iran.

Demi menjaga daya beli masyarakat dan menstabilkan harga energi, Trump mulai melunakkan narasinya dengan memprediksi bahwa konflik bersenjata ini tidak akan berlangsung lama.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait masa depan konflik dengan Iran. Di satu sisi, ia memprediksi perang akan berlangsung singkat, namun di sisi lain, Trump menebar ancaman keras akan meningkatkan serangan jika Teheran berani mengganggu jalur pasokan minyak global.

Pernyataan ini muncul menyusul terpilihnya Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru untuk menggantikan mendiang ayahnya. Terpilihnya sosok garis keras ini sempat memicu kepanikan pasar global yang membuat harga minyak mentah melonjak hingga menyentuh angka 120 per barel, sebelum akhirnya kembali melandai ke angka 90 setelah pernyataan optimistis Trump.

Advertisement

"Kami akan mengakhiri semua ancaman ini sekali dan untuk selamanya. Hasil akhirnya adalah harga minyak dan gas yang lebih murah bagi keluarga di Amerika," tegas Trump dalam konferensi pers di Miami, Senin 9 Maret 2026, waktu setempat.

Situasi di lapangan sendiri semakin memanas. Teheran diguncang lebih dari 20 ledakan hebat yang disebut sebagai serangan udara terdahsyat sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka tengah melancarkan gelombang serangan skala besar yang menyasar infrastruktur militer di Teheran, Isfahan, dan wilayah selatan Iran, termasuk markas besar drone milik Garda Revolusi.

Konflik ini telah meluas ke negara-negara tetangga. Iran dilaporkan meluncurkan belasan rudal balistik dan puluhan drone ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Qatar, hingga Bahrain. Serangan tersebut tidak hanya melukai puluhan warga sipil tetapi juga memicu kebakaran hebat di kilang minyak Bahrain.

Menanggapi eskalasi ini, Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan staf non-esensial dan keluarga diplomat untuk segera meninggalkan Arab Saudi.

Hingga saat ini, data resmi mencatat korban jiwa telah mencapai sedikitnya 1.230 orang di Iran, 397 di Lebanon, dan 11 orang di Israel. Di pihak Amerika Serikat, tercatat tujuh anggota layanan militer gugur dalam tugas.

Meski korban terus berjatuhan, penasihat kebijakan luar negeri Iran, Kamal Kharazi, menyatakan bahwa negaranya siap menghadapi perang jangka panjang dan menutup pintu diplomasi kecuali ada intervensi ekonomi internasional untuk menghentikan agresi tersebut.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID