fin.co.id - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara resmi mengucapkan sumpah setia kepada Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei yang baru saja terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam ketiga. Langkah ini menandai transisi kepemimpinan krusial di Republik Islam tersebut pasca gugurnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei.
Dalam pesan resminya pada Senin 9 , Presiden Pezeshkian menegaskan bahwa terpilihnya Mojtaba Khamenei oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts) merupakan simbol kekuatan dan martabat baru bagi bangsa Iran. Menurutnya, keputusan ini mencerminkan keinginan kuat umat untuk memperkokoh persatuan nasional di tengah berbagai tekanan eksternal.
Pezeshkian memberikan penghormatan tinggi atas pencapaian mendiang Ayatollah Seyed Ali Khamenei yang telah memimpin Iran selama 37 tahun. Ia menyebut fondasi yang ditinggalkan sang pendahulu telah memberikan pijakan kokoh bagi masa depan Iran. Di bawah kepemimpinan baru, Presiden optimis Iran akan mencapai cakrawala cerah yang ditandai dengan kemandirian berkelanjutan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Persatuan dan tata kelola yang bijaksana akan membuahkan kemajuan, keadilan sosial, dan martabat global bagi bangsa ini," ujar Pezeshkian. Ia juga menekankan bahwa Iran memiliki sejarah panjang dalam menghadapi rintangan melalui kebijaksanaan kolektif dan iman yang teguh.
Presiden Pezeshkian juga menyoroti tantangan keamanan akibat agresi dari rezim Zionis dan Amerika Serikat. Namun, ia meyakini bahwa dengan landasan strategis yang telah diletakkan oleh pemimpin sebelumnya serta keteguhan angkatan bersenjata, Iran mampu melewati masa sulit ini.
Proses pemilihan Mojtaba Khamenei berlangsung cepat di tengah kondisi darurat pasca serangan pada 28 Februari lalu. Majelis Ahli segera menjalankan tugas konstitusionalnya untuk memastikan tidak ada kekosongan kekuasaan. Dengan perolehan suara yang signifikan, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei kini resmi memegang tonggak kepemimpinan tertinggi Iran untuk melanjutkan visi revolusi di masa depan.