Nasional . 10/03/2026, 14:52 WIB

Potensi Lebaran 2026 Berbeda, Kemenag Prediksi 1 Syawal Bisa Tak Serempak, Ini Alasannya

Penulis : Derry Sutardi  |  Editor : Derry Sutardi

Dalam metode tersebut, awal bulan Hijriah ditentukan melalui perhitungan astronomi tanpa menunggu pengamatan langsung hilal.

Karena menggunakan pendekatan matematis murni, Muhammadiyah biasanya dapat menetapkan tanggal awal bulan Hijriah jauh sebelum waktu pelaksanaan rukyat.

Peneliti BRIN Perkirakan Perbedaan Sulit Dihindari

Prediksi perbedaan Lebaran 2026 juga disampaikan oleh peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Thomas Djamaluddin.

Menurutnya, berdasarkan perhitungan astronomi di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal pada saat Maghrib 19 Maret 2026 belum memenuhi kriteria visibilitas hilal versi MABIMS.

Artinya, kemungkinan besar pemerintah baru akan menetapkan 1 Syawal sehari setelah keputusan Muhammadiyah.

“Dengan demikian 1 Syawal jatuh pada 21 Maret 2026,” ujar Thomas.

Jika prediksi tersebut benar, maka Idul Fitri tahun ini berpotensi dirayakan dengan perbedaan satu hari antara sebagian umat Islam di Indonesia.

Standar Kriteria Hilal MABIMS

Penentuan awal bulan Hijriah oleh pemerintah Indonesia menggunakan kriteria imkanur rukyat yang disepakati dalam forum MABIMS.

Beberapa parameter yang digunakan antara lain:

  • Tinggi hilal minimal 3 derajat

  • Sudut elongasi minimal 6,4 derajat

Apabila posisi bulan belum memenuhi batas tersebut saat matahari terbenam, maka hilal dianggap belum mungkin terlihat.

Dalam kondisi tersebut, bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari sebelum memasuki bulan Syawal.

Kepastian Tetap Menunggu Sidang Isbat

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com