fin.co.id - Perang besar yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini menyusut menjadi satu pertanyaan tunggal yang krusial: Siapa yang sanggup menahan penderitaan paling lama? Di balik kecanggihan rudal dan drone, pertarungan ini telah menjelma menjadi kontes ketahanan nasional dan stabilitas ekonomi global yang kian mencekam.
Sejumlah analis pasar energi internasional menilai bahwa situasi ini telah bergeser menjadi perang atrisi ekonomi. Mereka berpendapat bahwa Iran sedang menekan titik terlemah Amerika Serikat—yakni stabilitas harga energi—untuk melihat seberapa besar 'rasa sakit' yang sanggup ditanggung ekonomi global sebelum Washington terpaksa melunak."
Lonjakan harga minyak dunia menjadi senjata paling mematikan bagi Iran sekaligus titik terlemah bagi Amerika Serikat. Saat harga minyak mentah melambung hingga mendekati 120 per barel pada Senin lalu, pasar finansial global langsung terguncang.
Donald Trump tampak menyadari ancaman ini dengan menyebut perang akan berlangsung "jangka pendek" guna menenangkan pasar, meski di saat yang sama ia bersumpah untuk terus menghancurkan Iran.
Iran: Menderita tapi Tak Menyerah
Di pihak lain, Republik Islam Iran harus menanggung derita akibat hujan serangan udara AS dan Israel yang menyasar infrastruktur sipil hingga militer. Meski kekuatan militernya terpukul hebat, Iran masih mampu meluncurkan gelombang rudal dan drone ke seluruh kawasan. Pengalihan kepemimpinan dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei ke putranya, Mojtaba Khamenei, justru membawa garis kepemimpinan yang jauh lebih keras kepala.
Rakyat Iran sendiri kini berada dalam posisi terjepit. Di tengah kemarahan akibat bombardir intensif, mereka harus bertahan hidup sementara pasukan keamanan bersiaga penuh di jalanan untuk meredam potensi demonstrasi anti-pemerintah. Bagi penguasa Teheran, kemenangan berarti satu hal: tetap berkuasa, apa pun taruhannya bagi rakyat dan kawasan.
Ekonomi Global Jadi Sandera
Strategi Iran tetap fokus pada menciptakan kekacauan di Selat Hormuz, jalur yang dilewati 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Serangan terhadap kapal-kapal tanker telah melumpuhkan aktivitas pelayaran tanpa perlu memasang ranjau di perairan tersebut. Akibatnya, produksi gas alam di Qatar terhenti dan operasional minyak di Bahrain serta Arab Saudi terganggu hebat, yang secara langsung memukul ekonomi Asia, terutama China.
Donald Trump merespons dengan ancaman maut melalui platform Truth Social, menjanjikan serangan "20 kali lebih keras" yang akan membuat Iran mustahil untuk dibangun kembali sebagai sebuah bangsa. Namun, Garda Revolusi Iran justru membalas dengan gertakan bahwa mereka tidak akan membiarkan "satu liter minyak pun" keluar dari Teluk Persia jika tekanan terus berlanjut.
Misteri Akhir Pertempuran
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Iran secara terang-terangan menolak tawaran mediasi dari China, Prancis, maupun Rusia. Mereka merasa memegang kendali karena mampu menyakiti ekonomi global melalui pasar energi.
Ketidakjelasan tujuan akhir Trump, apakah ingin menggulingkan rezim atau sekadar menghilangkan ancaman nuklir, memberinya fleksibilitas untuk mengklaim kemenangan sewaktu-waktu. Namun, selama Iran masih memiliki stok uranium dan kepemimpinan garis keras Mojtaba Khamenei masih tegak berdiri, tantangan bagi AS dan Israel tetap akan membayangi, bahkan jika senjata berhenti menyalak besok.