Ekonomi . 12/03/2026, 17:01 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya sempat menyatakan bahwa konflik dengan Iran hampir berakhir. Namun kenyataannya, ketegangan di kawasan tersebut masih berlangsung dan terus memengaruhi sentimen pasar energi.
Situasi ini membuat investor cenderung berhati-hati karena konflik geopolitik sering kali berdampak pada fluktuasi harga komoditas strategis.
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin dalam data referensi nilai tukar dari Bank Indonesia. Berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah tercatat berada di posisi Rp16.899 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp16.867 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.
Investor global kini menaruh perhatian pada rilis data inflasi lanjutan yang dijadwalkan keluar pada Jumat. Data tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah inflasi di Amerika Serikat sekaligus menjadi indikator bagi kebijakan suku bunga ke depan.
Jika tekanan inflasi meningkat, bank sentral kemungkinan akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Hal tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.
Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan harga energi dan kondisi geopolitik dunia yang dapat memicu volatilitas di pasar keuangan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media