fin.co.id - Pertahanan udara Arab Saudi bekerja ekstra keras menghalau gelombang serangan udara yang menyasar wilayah timur dan tengah Kerajaan, termasuk kawasan diplomatik di Riyadh dan ladang minyak strategis Shaybah. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi telah menembak jatuh puluhan drone yang mencoba menembus wilayah udara mereka pada Jumat 13 Maret 2026 dini hari waktu setempat.
Melalui serangkaian unggahan di platform X, otoritas militer melaporkan bahwa sistem pertahanan udara berhasil mencegat setidaknya tujuh drone di Kegubernuran Al-Kharj dan wilayah Empty Quarter. Salah satu target paling krusial adalah Kawasan Diplomatik di ibu kota Riyadh, di mana sebuah drone berhasil dihancurkan sebelum mencapai sasaran.
"Sistem pertahanan udara kami telah menghancurkan lebih dari dua lusin drone yang terdeteksi di ruang udara Kerajaan. Kami berkomitmen menjaga keamanan infrastruktur energi dan wilayah pemukiman dari ancaman luar," tulis pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Arab Saudi.
Dampak Perang AS-Israel Lawan Iran
Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk lainnya kini menghadapi ancaman rudal dan drone yang meningkat sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026. Konflik ini telah mengubah peta keamanan kawasan secara drastis dalam waktu singkat.
Serangan udara tersebut tidak hanya menyasar area pemukiman dan diplomatik, tetapi juga infrastruktur energi vital. Selain ladang minyak Shaybah, beberapa titik seperti Pangkalan Udara Pangeran Sultan dan Kedutaan Besar AS di Riyadh turut menjadi target serangan dalam gelombang operasi udara tersebut.
Merespons situasi yang kian memanas, Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, melayangkan kecaman keras. Dalam komunikasi via telepon dengan Menteri Pertahanan Turki, ia menegaskan pentingnya stabilitas kawasan dan perlindungan terhadap kedaulatan negara-negara Teluk.
Dukungan Internasional dan Resolusi PBB
Di tengah ketegangan militer, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyambut baik langkah Dewan Keamanan PBB yang telah mengadopsi resolusi terkait konflik ini pada Rabu lalu. Resolusi tersebut menuntut penghentian segera segala bentuk serangan terhadap negara-negara Teluk dan Yordania.
Ketegangan di Timur Tengah ini menjadi perhatian utama pasar energi dunia, mengingat posisi strategis Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar. Gangguan pada fasilitas minyak seperti di Shaybah berpotensi memicu lonjakan harga minyak global ke level yang lebih ekstrem. Hingga saat ini, militer Arab Saudi terus memperketat pengawasan udara guna mengantisipasi serangan lanjutan yang dapat mengancam stabilitas nasional maupun ekonomi global.