fin.co.id - Serangan drone yang dilancarkan kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah, kembali memicu perhatian global terhadap kemampuan sistem pertahanan udara milik Israel.
Dalam eskalasi terbaru di perbatasan utara, sejumlah drone dilaporkan berhasil menembus wilayah yang dijaga sistem pertahanan berbasis laser terbaru Israel, yakni Iron Beam.
Insiden ini memunculkan berbagai pertanyaan tentang efektivitas teknologi pertahanan berbasis energi terarah yang selama ini digadang-gadang sebagai masa depan sistem anti-drone modern.
Beberapa laporan media Israel menyebutkan bahwa drone yang diluncurkan Hezbollah berhasil mencapai kawasan komunitas Israel seperti Kiryat Shemona dan Kibbutz Dafna.
Padahal, wilayah tersebut berada dalam area perlindungan jaringan pertahanan udara berlapis milik Israel.
Peristiwa ini menambah babak baru dalam dinamika perang teknologi di Timur Tengah, di mana perkembangan drone murah kini mampu menantang sistem pertahanan udara yang sangat canggih sekalipun.
Mengenal Iron Beam, Sistem Laser Pertahanan Udara Israel
Iron Beam merupakan sistem senjata energi terarah yang dikembangkan sebagai bagian dari jaringan pertahanan udara berlapis Israel. Sistem ini juga dikenal dengan nama Magen Or atau Ohr Eitan.
Teknologi ini dikembangkan oleh dua perusahaan pertahanan besar Israel, yakni Rafael Advanced Defense Systems dan Elbit Systems.
Berbeda dengan sistem pertahanan konvensional yang menggunakan rudal pencegat, Iron Beam menggunakan sinar laser berenergi tinggi untuk menghancurkan target di udara.
Sistem ini memiliki beberapa karakteristik utama:
-
Daya laser lebih dari 100 kilowatt
-
Dirancang untuk menghadapi ancaman jarak pendek
-
Efektif terhadap drone, roket, dan mortir
-
Biaya tembakan sangat murah dibandingkan rudal pencegat
Setelah melalui berbagai tahap uji coba pada 2024 hingga 2025, sistem ini mulai dikerahkan secara operasional pada akhir Desember 2025.
Iron Beam juga dirancang untuk melengkapi sistem pertahanan terkenal milik Israel yaitu Iron Dome, yang selama ini digunakan untuk menghadapi serangan roket jarak pendek dari berbagai kelompok militan di kawasan.